Redefining Idealism : Idealisme Versi Gue

Idealisme dipuas-puasin deh pas kuliah, nanti abis itu komersil aja

– omongan seseorang yang gua lupa siapa, di Takor

Idealisme. Seksi bukan? Mahasiswa yang idealis identik dengan “kekiri-kirian”. Dia bukan hanya mengetahui pembagian kelompok mayoritas dan minoritas, demokrasi, kapitalisme, dan tujuan hidup, tapi juga berani berbicara soal perubahan-perubahan dalam dunia. Idealis, berarti percaya bahwa “a simple random kindness at a time can change the world”. Menjadi idealis berarti berbicara soal membela keadilan. Idealisme, bagi sebagian orang, adalah panggilan hidup yang mulia.

Aku dekat dengan idealisme. Ibuku selalu bercita-cita, suatu hari akan pergi ke kolong jembatan, ke pemukiman-pemukiman miskin dan kumuh untuk mengajari kaum perempuan agar lebih berdaya guna. Bagi ibuku, perempuan seharusnya mandiri, dan tidak bergantung kepada suami. Bagi ibu, wajib hukumnya kaum perempuan punya penghasilan sendiri. Setidaknya tidak menganggur dan gosip sana sini saat suami bekerja. Hebat bukan? Cita-cita itu mengingatkan akan semangat S.K Trimurti. Dia adalah jurnalis perempuan dan aktivis yang gigih mengadvokasi kepentingan buruh, khususnya perempuan. Pernah dipenjara. Dia juga berani menentang poligami, meskipun dekat dengan presiden Soekarno.

Tapi apakah arti idealisme buatku sekarang? Melawan tatanan dunia dan mendirikan yang baru, dimana keadilan dapat ditegakkan? Apakah idealismeku seperti yang dikatakan Derrida, bersifat Dekonstruktif, dengan membongkar konstruksi-konstruksi pemikiran status quo?

Ah, mungkin pernah terpikirkan untuk menjadi aktivis media, yang gigih menyuarakan pentingnya Melek Media. Atau menjadi dosen yang pintar dan mengabdi pada tujuan mulia mencerdaskan bangsa.

Tapi kemudian, kata-kata ini muncul


Tuhan,

beri aku kekuatan,

untuk merubah hal-hal yang bisa aku rubah

kedamaian,

untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku rubah


dan hikmat, untuk membedakan keduanya

Aturan main di dalam dunia, adalah sistem Kapitalisme dan ketidakadilan. Thats how it works. Suka atau tidak. Melanggar aturan main, berarti mempermasalahkan apa yang seharusnya tidak dipermasalahkan. Ribut soal aturan main, berarti tidak akan pernah mulai bermain. Sementara permainan jalan terus. Jadi gimana?

I think i will be one of the capitalist. Aku mau jadi mogul. Aku mau jadi CEO. Aku mau menempatkan profit diatas segalanya. Aku mau menggilas, berkompetisi, dan berburu rating. Aku mau punya media. Aku mau punya kekuasaan dari media itu. Aku mau hidup dengan esensi kapitalis : menumpuk modal.

Dimana idealismenya?

Idealismenya adalah hanya melakukan cara-cara legal untuk mencapai tujuan. Memperhatikan etika dan tidak menipu. Membela kaum minoritas dan terpinggirkan. Sensitif gender, dan menghormati pengalaman empiris masing-masing gender. Memandang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual seperti manusia, dan bukan sampah masyarakat. Dan terakhir, memperbudak kapitalisme, untuk diperas demi kepentingan yang lebih besar : kepentingan orang banyak. Capitalism is just a vehicle, not an option of purpose. Dualisme idealis-komersial, hanyalah ilusi.

If you can’t fight it, use it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s