Silet dan Sujud

17 Mei 2008

Entah namanya siapa. Bapak-bapak berusia tigapuluhan. Sehat, normal. Hanya, di bis yang sama denganku, dia memperlihatkan “pertunjukan” unik, atau lebih tepatnya, ekstrim. Kalau kebanyakan orang meminta uang dengan cara mengamen, atau nyata-nyata meminta uang langsung, dia berani makan silet. Iya! Dia makan silet.

Aksi ini dibuka dengan kata-kata

maaf sekali bapak ibu, kalau terpaksa, tidak akan saya melakukan ini…

Sebenarnya, sudah dua kali aku melihat dia. Tempo hari pernah juga. Di bis yang sama juga. Dan kira-kira beberapa menit setelah dia, belum lagi bis umum itu maju satu kilometer karena ditahan macet, ada orang lain lagi yang datang untuk meminta uang. Untunglah dia tidak membawa silet. Anehnya, dia tidak bawa apapun. Tidak gitar. Tidak harmonika. Tidak ada alat musik. Tidak ada silet. Dan tangannya bertato. Segala stereotipe tentang orang bertato pun langsung memenuhi pikiranku.

Selanjutnya, dia minta uang. Tanpa ngamen. Dia benar-benar meminta. Dan tidak kalah dengan peminta uang sebelumnya yang memakan silet, dia bersujud di bis itu. Benar-benar bersujud. Di bis umum. Kepalanya pun sejajar dengan kaki-kaki penumpang yang samasekali tidak bersih.

Satu makan silet. Yang lain sujud. Untuk seribu-dua ribu setiap bis.

18 Mei 2008
Situs QBheadlines.com membuat judul debat umum baru : pro-kontra kenaikan harga BBM. Pembicara dari pihak Kontra, Rizal Ramli sempat mengungkapkan :

Fakta menunjukkan, dampak dua kali kenaikan BBM pada 2005 sampai sekarang belum hilang. Jumlah orang miskin melonjak dari 31,1 juta jiwa (2005) menjadi 39,3 juta jiwa (2006). Demikian pula inflasi naik tajam 17,75% (2006). Jumlah penganggur naik dari 9,9% (2004) menjadi 10,3% (2005) dan naik lagi jadi 10,4% (2006). Di sisi industri, kenaikan harga BBM telah mendorong percepatan deindustrialisasi. Pada 2004 sektor manufaktur masih tumbuh 7,2%, namun tahun 2007 hanya tumbuh 5,1%. Ini terjadi karena industri ditekan dari dua sisi, yakni peningkatan biaya produksi dan merosotnya permintaan akibat anjloknya daya beli masyarakat

Semakin banyak orang miskin, berarti semakin banyak yang turun standar hidupnya. Semakin banyak yang miskin berarti semakin banyak yang terancam berhenti sekolah. Semakin banyak orang yang mengurangi jatah makannya setiap hari. Semakin banyak yang harus menggadaikan hartanya untuk menyambung hidup. Dan salah siapakah ini?

Apakah negara-negara eksportir minyak? Apakah pejabat-pejabat Pertamina yang mengutip minyak $2 per barel? Apakah pemerintah yang kekurangan akal dan komitmen untuk mengurangi jumlah orang miskin? Ah… perlukah semakin banyak orang yang makan silet dan bersujud di lantai metro mini kotor?

One response to “Silet dan Sujud

  1. waa reney!
    suka gue blog lo
    ok!
    mainmain ke blog gue yap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s