Lain Sisi , Sisi Lain

Sebuah keberuntungan besar dan sebuah kemalangan luar biasa bagi kita, manusia, untuk mengetahui bahwa segala sesuatu, apapun itu, selalu mempunyai sisi lain. Minimal, dua sisi. Maksimal, entahlah. Judul tulisan inipun disesuaikan dengan ide dasarnya. Lihatlah, kawan, judul ini tertulis simetris. Ada “kanan” ada “kiri”. Ada “ini” dan ada “itu”.

“Ini” adalah sudut pandang yang akrab dengan kita, dan “itu” adalah yang ditentukan oleh Sang Nasib, untuk menjadi kurang akrab dengan kita. Sayangnya, “ini” tidak selalu lebih baik daripada “itu”. Pun sebaliknya berlaku.

Segala hal, bahkan yang paling populis sekalipun, selalu mempunyai sisi lain. “Kebersihan” misalnya. Ia adalah idaman semua orang. Lingkungan yang bersih adalah tujuan setiap masyarakat. Tetapi, tidak demikian dengan pemulung, tukang sampah, dan peminta-minta. Mereka ini, mungkin, menjadi pihak yang tidak bersukacita akan kebersihan. Karena, lingkungan bersih berarti kurangnya makanan sisa yang bisa didapat. Kurangnya barang-barang bekas yang bisa dicari. Dan lebih dari itu, lingkungan yang bersih berarti suasana alienasi bagi para kaum terpinggirkan. Sebuah pengusiran yang sempurna: diam-diam, tetapi ampuh, dan disaat yang sama menjaga pengusirnya tetap dipandang “bermartabat”.

Itulah. Tidak ada yang lepas dari berkat dan kutukan “sisi lain”. Si Gemini, ternyata bukan hanya hidup di mitos-mitos kuno, tetapi juga bersembunyi diantara realita kehidupan sehari-hari.

Dan sadarkah kita, bahwa semua yang “ini” dan semua yang “itu” terbentuk dalam kepala kita tanpa sekalipun kesempatan bagi kita untuk memilih? Sang Nasib telah begitu rupa menentukan kita: identitas kita, media kita, orangtua kita, status sosial kita dan jutaan hal lain. Segala sesuatu yang kita sebut sebagai “kehendak bebas” seringkali hanyalah sebuah pilihan kecil diantara jutaan bukan-pilihan yang terbentang didepan kita.

Apakah kita dapat mengontrol sikap kita/ respon kita terhadap sesuatu? Mungkin bisa

Apakah kita bisa mengontrol media kita, yang mempengaruhi sikap kita? Secara terbatas, bisa.

Apakah kita bisa mengontrol sikap orangtua, baik dalam membesarkan kita, maupun dalam memberi teladan? Hampir tidak bisa

Apakah kita bisa mengontrol kondisi ekonomi perusahaan/ masyarakat tempat orangtua kita mencari nafkah sehingga mempengaruhi kebahagiaannya, sehingga mempengaruhi sikapnya pada kita?

Tidak bisa.

Dan masih jutaan pilihan-pilihan lain yang tidak dapat kita kontrol…

Dan inipun belum termasuk di keluarga apa kita dilahirkan…warna kulit apakah kita…dan sebagainya

Siapakah kita, kawan, selain dari mainan-mainan kecil yang berlari-lari tidak tentu arah kesana-kemari?

. . . and the basic absurdity of the human situation must be recognized and accepted . . . life is just a series of absurd waiting periods . . . man always dies before he is fully born…

-dedynhidayat.blogspot.com-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s