Tentang Saudara

ku akan menjagamu

di bangun dan tidurmu

di semua mimpi dan nyatamu

ku akan menjagamu

tuk hidup dan matiku

tak ingin… tak ingin kau rapuh…

Nyanyian dua pengamen berusia SD itu jauh dari bagus. Biasanya pengamen bersuara bagus, tetapi tidak kali ini. Satu fals, dan satu lagi sumbang. Demikianlah kaka beradik itu cocok satu sama lain.

Suara mereka sesekali tertelan bunyi gitarnya sendiri yang kadang berbunyi seperti nyanyian tokoh “Giant” dalam Doraemon. Belum lagi bisingnya bus metromini ibukota.

Namun, dengan kesederhanaan seperti itulah, ingatanku terbawa kepada seseorang. Namanya Indra. Dia sahabat terdekat, sekaligus saudara sepupuku. Dia sekarang berusia SMA. Kami dulu seperti Mario dan Luigi dalam Mario Bros: berpetualang bersama dalam dunia imajinasi kami yang tiada henti berubah, memperbarui dan memperkaya kami dengan penaklukan-penaklukan. Ya, penaklukan di dalam kertas-kertas gambar yang suka kami habiskan berlembar-lembar, penaklukan di layar video games, dan penaklukan di lapangan sepakbola.

Suatu hari kami bahkan kesetrum bersama. Begitu kuatnya daya listrik itu, sehingga kami terpental. Aku merangkak-rangkak dengan sisa tenaga, untuk mencari pertologan, sementara dia sudah tergeletak lemas. Untunglah setelah itu semuanya baik-baik saja.

Tapi itu semua masa lalu.

Sekarang, dia kerepotan menangani derasnya pengaruh buruk pergaulan di ibukota. Dan semuanya tampak tidak pernah sama lagi. Bolos sekolah, dikeluarkan, pergi dari rumah, hingga sempat dipenjara. Masa remaja memang sulit diduga.

Kabar terakhir, ia memutuskan mengambil Paket C dengan biaya sendiri. Sekarang ia bekerja sebagai pembuat tenda. Seadainya kamu tahu betapa kabar ini menjadi kejutan luar biasa bagi ibunya, yang sempat menunggui dia dipenjara, dan mengetahui apa saja perlakuan buruk polisi terhadap para napi, dan semua kebusukan-kebusukan lainnya disana.

Nanti, aku mau main lagi bersamanya. Pasti. Seperti nyanyian dua pengamen diatas.

Dan nyanyia itupun selesai sudah. Kedua pengamen berusia SD tersebut turun dari bis setelah menyebarkan kantong untuk menampung uang.

“Jangan lompat, awas jatoh” Si kondektur berteriak lantang kepada yang kecil.

“Ah biarin bang, jatoh kebawah ini” Si kecil berteriak.

Dan keduanya melompat dari bis, mencari bis lain untuk dilompati lagi setelahnya, sambil ditemani gitar bersuara Giant “Doraemon”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s