Dua Pengendara Motor Yang Mengobrol

Pernah lihat dua pengendara motor di jalan raya saling berdekatan dan mengobrol? Atau bahkan pernah merasakan mengendarai motor sambil ngobrol dengan teman?

Biarpun saya salah satu pembenci utama perilaku kampungan ini, tapi saya pernah.

Dan ternyata, rasanya jauh lebih heboh daripada ngobrol di tempat yang “normal”. Dibela-belain pakai menyamakan kecepatan, sering-sering nengok ke depan, sama buka kaca helm. Enggak perduli pengendara lain dari belakang mungkin jadi kesal gara-gara tingkah norak ini. Bahkan jika kamu tipe orang yang datar-dan-membosankan seperti sayapun pasti akan menikmati ngobrol dengan cara ini.

Kadang, saat sedang sendiri di jalan raya, saya suka berpikir: “kenapa ya ngobrol kayak gitu kok enak banget”? Biarpun norak, tidak pada tempatnya, dan cenderung membahayakan, kebanyakan pengendara motor pasti akan tidak menolak jika ada kesempatan ini.

Sempat terlintas, mungkin itu karena kesendirian. Ditengah-tengah jalan raya, semua orang menjadi anonim. (Hampir) semua pakai helm dan jaket. Kita jadi sekedar angka. Hanya salah satu diantara jutaan pengendara motor lainnya. Identitas kita hanya satu: pengendara. Kita tidak dikenali orang lain, jika tidak super-apes. Jadi, kesendirian dan anonimitas ini jugalah yang mendorong kita untuk berani bersikap seenak jidat: tabrak lari, menerobos lampu merah, salip sana-sini, dan jutaan perilaku egois nan membahayakan lainnya. Toh tidak ada yang tahu kalau kita habis tabrak lari. Toh tidak ada citra yang dipertaruhkan. Tidak ada nama baik yang akan berkurang kadar kemurniannya. Semuanya larut dalam dunia anonim.

Dan ditengah-tengah dunia yang anonim itu, tiba2 ada teman-entah dekat atau biasa saja, yang mengajak ngobrol… Yah, bisa dimengerti kenapa orang-orang suka sekali mengobrol di jalan raya. Oasis ditengah gurun? Mungkin.

Hal yang sama, mungkin, juga berlaku untuk semua kesendirian. Siapa yang bisa menolak secangkir air es ditengah gurun? Siapa yang bisa menolak perhatian saat kita tidak punya apapun?

….

Ditengah dunia yang mengkotak-kotakkan kita dengan identitas “demografi”, “psikografi”, A, B+, B, dan sebagainya, perlu kita jaga baik-baik orang yang memperlakukan kita dengan kebutaan terhadap ukuran-ukuran ini.

One response to “Dua Pengendara Motor Yang Mengobrol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s