Termehek-Mehek

Mari bicara tentang Termehek-Mehek. Inilah acara yang sekarang banyak mendapat perhatian khalayak penonton televisi. Penulis belum mendapat data yang pasti tentang berapa banyak rating atau market share dari acara ini, tetapi mungkin kita dapat sepakat, bahwa audiens acara ini cukup besar.

Belakangan ini penulis menyempatkan diri untuk secara rutin menonton acara ini. Dan hasilnya, penulis langsung teringat kepada dua judul buku, Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Kesamaan Termehek-Mehek dengan kedua judul novel laris itu adalah, kemampuannya untuk mengaburkan mana yang fiksi, dan mana yang non-fiksi.

Termehek-mehek menggambarkan semuanya secara detail, dan yang jelas, dramatis. Duet presenter Panda dan Mandala membantu klien yang sedang mencari seseorang, mungkin itu pacar, suami, atau ibu/ayah. Keadaan akan semakin menegangkan saat menelusuri jejak yang ditinggalkan oleh orang yang dicari.

Penelusuran menjadi semakin intens, tidak pasti, dan penuh dengan kejadian-kejadian mengejutkan, hingga pada akhirnya kita akan menemukan orang tersebut. Tentu saja, sepanjang pencarian, kita akan bertemu dengan adegan perkelahian, aksi saling dorong, pertemuan dengan komunitas yang tidak diduga sebelumnya, perjumpaan dengan narasumber kunci, dan sebagainya. Melihat inilah, penulis terpikir tentang kedua novel itu. Laskar Pelangi dan The Da Vinci Code sama-sama menghadirkan kita sensasi berada di garis yang sangat tipis antara nyata dan tidak nyata. Beberapa hal nyata, dan yang lainnya tidak. Dan hebatnya adalah, baik Termehek-Mehek maupun kedua novel itu, sama-sama menggunakan sebuah cara tutur yang seharusnya paling jujur dan dapat dipercaya: cara tutur jurnalistik.

Kemampuannya untuk menghadirkan laporan pandangan mata, kemampuannya melihat hal-hal detail, cara kerjanya yang mengandalkan verifikasi dan kegigihannya mencari narasumber, merupakan beberapa basis utama dari cara kerja pelaporan jurnalistik. Hal lain yang juga penting adalah bahwa Termehek-Mehek membuat kita percaya, bahwa kejadian itu adalah sebuah kenyataan. Ia memberikan kita semua alasan untuk percaya, bahwa itu adalah sebuah kenyataan.

Mungkin, ceritanya benar-benar sebuah fakta yang terjadi di masa lalu, yang dituturkan oleh seseorang yang kemudian mengirim email pada redaksi Termehek-Mehek. Tetapi, apakah semua kejadian yang digambarkan didalam acara itu merupakan kenyataan? Ataukah itu hanya sebuah reka ulang? Dan jika itu sebuah reka ulang, bukankah itu sebuah fiksi? Karena dalam sebuah adegan reka ulang, tiap detail yang ada didalamnya, akan menjadi tunduk kepada intervensi. Tentu saja, intervensi untuk men-dramatisasi acara ini semaksimal mungkin.

Dalam kasus Termehek-Mehek, penulis memperhatikan beberapa detail, seperti penggunaan multi-kamera pada saat bersamaan. Khususnya dulu, pada awal-awal penayangannya, acara ini tidak secara eksplisit menampilkan staf dan kameramennya. Sekarang, mungkin karena pertimbangan untuk meningkatkan sensasi realisme, staf dan kameramen ikut dimunculkan.

Penulis juga memperhatikan kejanggalan-kejanggalan pada beberapa tindakan Mandala, misalnya, pada episode penemuan markas pengamen anak-anak yang dieksploitasi orang dewasa, menurut penulis, semua orang akan berpikir seharusnya menelpon polisi karena sudah berkaitan dengan masalah hukum. Tetapi pada acara itu, tidak ada samasekali pemikiran dari Mandala dan Panda untuk menelpon polisi.

Penulis tidak akan berhenti pada kesimpulan apapun mengenai kadar “kenyataan” yang ada di acara Termehek-Mehek. Penulis hanya akan mengajak berpikir, bahwa kita perlu berhati-hati terhadap media yang kita gunakan. Seperti sebuah peribahasa tua, “devils are in the details”. Detail-detail sederhana juga akan menunjukkan pada kita, bahwa dalam beberapa acara pelaporan jurnalistik, digunakan pula cara tutur fiksi.

Pada akhirnya, bagian kitalah untuk memilah-milah mana yang layak kita perlakukan sebagai informasi, dan mana yang hanya layak diperlakukan sebagai hiburan, bahan tertawa bersama keluarga dalam suasana yang santai di malam hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s