Rapoport (1) – Nyaman

John Fiske and John Hartley, didalam Reading Television, mengutip kata-kata Anatol Rapoport:

Just as all living organisms live in certain specialized environments to which they adapt and which completely determine their lives, so do human beings live, to a significant extent, in an ocean of words. The difference is that the human environment is, to a large extent, man made. We secrete words into the environment around us just as we secrete carbon dioxide and, in doing so, we create an invisible semantic environment of words which is part of our existence in quite as important ways as the physical environment. The content of verbal output does not merely passively reflect the complex social, political, and economic reality of the human race: it interacts with it as well. As our semantic environment incorporates the verbal outputs secreted into it, it becomes both enriched and polluted, and these changes are largely responsible for the course of human history.

(Rapoport 1969, p. 36) dari Hartley & Fiske, 2004, hal 49.

Kutipan ini, menurut saya memancing banyak hal untuk dipikirkan. Pertama-tama, adalah tentang kalimat pembuka

just as all living organisms live in certain specialized environments“.

Benar, bahwa semua makhluk hidup, khususnya orang, hidup di lingkungannya yang spesifik. Spesifik? Saya lebih suka menyebutnya… personal. Dan sama seperti kita tinggal di lingkungan fisik yang sangat personal, cara kita memaknai dunia disekeliling kita juga sangat personal. Kita membangun realita kita sendiri. Semua orang punya caranya sendiri. Semua orang punya dunia sendiri. Kita punya kebenaran-kebenaran sendiri yang kita percayai.

Kita mengkonstruksi realita kita sendiri. Membangun definisi-definisi kita sendiri. Menentukan apa yang kita sukai, percayai, benci, gilai, jauhi… apapunlah. “Jalan” kita, hanya kita sendiri yang tahu. “Cara” kita, hanya kita sendiri yang tahu. Saya jadi ingat kata-kata dari Atticus Finch, seorang tokoh di novel klasik To Kill A Mockingbird:

You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it.

Dan sampai batas tertentu, semua perilaku orang, bahkan sampai yang paling aneh sekalipun, akan mungkin kita lakukan juga kalau kita punya pengalaman-pengalaman yang sama dengan orang itu… kalau kita tejebak dalam pilihan-pilihan yang harus dia ambil.

Semuanya mulai menjadi menarik saat kita melihat orang lain, yang benar-benar berbeda latar belakang, yang mempunyai pengalaman-pengalaman berbeda dengan kita, tapi punya cara membangun realita yang sama dengan kita. Hanya perlu waktu sebentar, saat kita sadar bahwa dia kemudian mengambil pilihan-pilihan yang sama dengan kita jika ada di posisinya.

Dan semuanya menjadi sangat menarik saat dia… menarik, secara intrinsik.

Dan kalau begini, kita mungkin akan merasa lucu… bahwa ditengah banyaknya kemungkinan, variasi, kekacauan; yang semuanya bisa membentuk orang-orang dengan pengalaman-pengalaman unik yang sangat kompleks, kita bisa menemukan orang lain yang dengannya kita bisa merasa nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s