Tentang Kematian

Ada ungkapan ‘mulailah hidupmu dengan mengingat-ingat kesan apa yang ingin kamu tinggalkan saat kamu mati’. Saya lebih setuju kata-kata Sidney Mohede:

‘One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching’

Soal persepsi orang terhadap kita saat kita sudah meninggal, itu bukan urusan kita. Kadang kita harus mengambil keputusan yang bagi orang lain buruk, tapi kita tahu pasti itu benar. Atau, kalau kita alergi terhadap kata “benar” karena terlalu relatif, kita bisa ganti dengan “paling berharga pengorbanannya”; ‘for greater good‘.

Persepsi orang terhadap kita, tidak sepenuhnya ada di kendali kita. Tapi, kita tahu pasti apa pertimbangan-pertimbangan terdalam kita. Dan itulah yang akan diputar kembali beberapa detik sebelum kita meninggal. Didalam hitungan detik itu, entah bagaimana, sistem memori akan me-recall gambar-gambar kejadian masa lalu kita, setting peristiwanya, konteks masalahnya, dan apa pertimbangan-pertimbangan kita.

Saya tidak sedang mengajari kamu tentang how-to-live-your-life-to-the-fullest, tapi lebih kepada membagi pertanyaan besar yang suka sekali menggelayut dikepala saya:

Am I doing good?
Apa keputusan ini benar?
Apa ini gambar-gambar yang ingin saya lihat nanti beberapa detik sebelum nafas saya habis?

Apa orang yang kamu rencanakan buat jadi pasanganmu itu sudah paling cocok?
Apa pilihan karier yang kamu putuskan itu sudah paling benar?
Apa isu-isu spiritualitas yang kamu tentukan itu sudah cocok?

Saya jadi ingat kata-kata dalam profil Facebook seorang teman: “we’re all in the gutter, but some of us are looking at the stars” -Oscar Wilde.

[But how will you define ‘gutter’ ? And what ‘star’ worth looking to?]

Ah entahlah. Yang jelas, apa yang ingin saya tonton nanti saat sebelum mati adalah seperti ini:

Potongan video-video singkat, seperti iklan. Isinya harus sangat lucu, dengan sedikit horor, ditambah banyak sisi sentimentil yang rahasia, diselingi adegan fiksi sains yang belum terjawab, ditambah banyak teka-teki yang akhirnya selesai – maupun yang kelupaan untuk diselesaikan, menyentuh isu-isu dasar kemanusiaan, yang semuanya itu diisi dengan narasi dari suara saya sendiri, dan akhirnya, ditutup dengan satu happy ending.

2 responses to “Tentang Kematian

  1. Ahhhh merinding, tapi gw mao kalo gw mati yang nangis dan ngerasa kehilangan banyak, kalo perlu ucapan dukanya di koran banyak *tanda kalo kehadiran gw berarti dan bermanfaat banyak* hehehe
    ini serius lo, gw udah lama mikirin hahaha

    ps: gw jg mao nama gw masuk 100 orang paling berpengaruh majalah time, hihihi

  2. sakit hati dengan orang tua sendiri cinta tak di restui

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s