Menulis Mimpi

Mimpi itu seperti menulis. Kita tidak tahu pasti apa yang akan kita tulis. Kita mulai dengan satu kata. Lalu kata lainnya. Lalu satu kalimat. Lalu kalimat lainnya. Satu ide, bersambung dengan ide lainnya. Terus begitu sampai selesai. Mimpi itu seperti itu. Kita mengerjakan sesuatu. Kita hidup dengan rutinitas harian yang biasa.
Kita bangun, mandi, pergi ke tempat aktivitas, mengeluh tentang cuaca, membaca koran, membicarakan buku, film, atau kejadian-kejadian yang kadang tidak ada hubungannya dengan hidup kita. Kita jalan di rute yang biasa kita lalui. Lalu tiba-tiba kita terpeleset ke gorong-gorong!

Didalam gorong-gorong yang bau, sempit, pengap, gelap, dan ramai dengan suara tikus itu, kita melihat sebuah pintu. Dan setelah dibuka, ternyata pintu itu adalah sebuah kamar mandi. Dan kamar mandi itu adalah sebuah bagian dari ruang pesta. Sebuah pesta pernikahan yang hebat!

Begitulah menulis. Begitulah mimpi. Satu kejadian, mendorong kepada sebuah kesan. Sebuah kesan, membuat kita menginginkan yang lain. Kita lalu berharap dan bermimpi. Dan harapan, kadang harus berhenti saat kita tidak siap.

Tapi mungkin, seperti menulis, bermimpi juga sulit ditebak akhirannya. Sebuah paragraf yang sudah selesai, ternyata merupakan bagian pengantar dari sebuah bagian baru. Rangkaian kejadian yang membuat kita berharap dan bermimpi, dan kemudian kehilangan keduanya sekaligus, merupakan sebuah bagian. Tapi selalu ada bagian lain.

Dan bagian terbaiknya adalah, kita penulisnya, sekaligus pemimpinya. Kita yang memilih kata-katanya, menentukan sudut pandangnya, menggambarkan adegannya. Kita melakukan seleksi akan apa yang kita mau tulis dan apa yang tidak mau kita tulis. Tapi pada akhirnya, kita hanya bisa diam dan teringat lagi akan keterbatasan kita.

Ending yang berkesan, kata-kata kunci yang membuat kita tergelitik, alur penulisan yang dinamis, hanya bisa didapat saat kita terjun, turun kedalam ketidakterbatasan kemungkinan. Begitu juga mimpi. Bagian terbaik dari sebuah mimpi adalah keseimbangan sempurna dari harapan dan kemustahilan. Dari usaha, dan nasib. Dari kontrol, dan ketiadaan kontrol.
Mari, mari. Mari menulis mimpi. Mari berhenti sebentar dari berjuta-juta pola kegiatan harian kita dan beribu-ribu rencana yang sudah berjejal-jejal di kepala untuk menyadari bahwa besok dan seterusnya adalah sebuah negosiasi makna yang tidak pernah selesai antara “nasib” dan “pilihan”. Dan kalau kita bisa mengajukan penawaran yang tepat kepada “nasib”, mungkin ia akan berpihak pada kita: saya dan kamu.

2 responses to “Menulis Mimpi

  1. waduuhhh setuju sayahh!!
    sering bgt klo gw nulis gw ga tau sbenernya mo nulis ttg apa, tapi tiba2 idenya muncul pas udah di tengah jalan, ngalir aja, heheee..

    agak nyambung mungkin

  2. nulis di majalah gih ney! x’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s