Tentang karier, cinta dan semua keanehannya

Tonight most people will be welcomed home by jumping dogs and squealing kids. Their spouses will ask about their day, and tonight they’ll sleep.

The stars will wheel forth from their daytime hiding places. And one of those lights, slightly brighter than the rest, will be my wingtip passing over.

Itu adalah kutipan dari film Up in The Air yang menggambarkan bagaimana hidup Ryan Bingham berbeda dari yang lain. Ryan, digambarkan sebagai seorang yang sangat sering bepergian dan menyukai hal itu. Ia suka kebebasan. Ia berencana tidak punya anak dan tidak ingin punya rumah.

Saya suka dengan karakter Ryan yang sangat solitary, independen dan nyaman dengan kesendirian. Saya juga mungkin tipe orang yang dibentuk untuk menjadi seperti itu. Saya lahir sebagai anak tunggal, dan kedua orangtua saya bekerja. Saya lalu mendapat pekerjaan yang bisa saya urus dari rumah.

Karena terbebas dengan masalah transportasi (yang menghabiskan uang, tenaga dan waktu), saya jadi punya banyak waktu luang untuk membaca, ikut beberapa kelas dan masih bisa mengobrol bersama teman-teman (asal pada malam harinya saya lembur).

Tapi tidak semuanya baik. Saya merasa kesepian. Efektif, tapi kesepian. Saya mencoba bertemu secara rutin dengan beberapa orang, tapi tampaknya, bagi orang-orang ini, pukul 9 pagi sampai 5 sore adalah waktu terbaik mereka. Sisanya adalah waktu mereka untuk memulihkan tenaga. Dan itu membuat obrolan dengan mereka menjadi sedikit ‘berbeda’.

Dalam hal hubungan-spesial, saya juga belum beruntung. Agak ironis memang, karena saya adalah kontributor artikel tips-tips hubungan romantis. Tapi saya sendiri menghadapi banyak masalah dalam hal cinta, seperti miskomunikasi, kesenjangan antara harapan dan kenyataan, ketidakpastian yang terlalu besar, dan sebagainya. Dalam hal hubungan cinta, sepertinya saya memang belum beruntung.

Tapi film Up In The Air memberikan saya ide untuk menata kembali cita-cita dan prioritas saya. Film ini tidak berakhir dengan Ryan Bingham menikah atau berubah. Film ini seperti hanya menjelaskan satu babak dalam hidup Ryan. Dan itu yang saya butuhkan.

Saya perlu yakin, bahwa semua misteri, ketidakpastian dan keanehan dalam hal hubungan cinta; serta semua isu tentang kesepian karena perbedaan pilihan hidup; hanyalah satu babak dalam hidup saya. Kadang, tidak perlu ada jawaban. Menyebalkan? Mungkin. Tapi beberapa hal perlu dihadapi dengan melebarkan hati, bukan dengan mendesak-desak mencari jawaban.

Cinta? Saya tidak tahu akan kemana arahnya.

Kesepian? Biar itu jadi urusan saya.

Kadang ada saatnya anda menikmati naik-turunnya roller coaster cinta, mengambil keputusan drastis, atau mengijinkan diri anda dikendalikan emosi/ perasaan/ insting. Tapi saat terlalu banyak ketidakpastian, saat harapan jadi too-good-to be-true, maka yang terbaik yang bisa dilakukan adalah menghela nafas, bicara dengan 1-2 teman terdekat, memainkan musik favorit, lalu kemudian memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini.

Saya mungkin akan kembali ke hal-hal favorit saya… membaca buku, mendengarkan lagu-lagu, berusaha menikmati oatmeal saya, dan mencari apapun yang menarik perhatian saya. Mendatangi acara-acara menarik, atau menikmati obrolan-obrolan menyenangkan dengan teman-teman Saya juga akan menikmati rasanya menata urusan seperti rencana studi, tabungan/keuangan, pakaian, travel, dan sebagainya.

Itu sudah cukup untuk membuat segalanya menyenangkan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s