Lifestyle Design: Alat, Bukan Tujuan

Melalui beberapa pilihan, saya bisa punya pilihan lebih banyak dalam hal gaya hidup. Saya juga menjadi relevan dengan terminologi “lifestyle design“. Lifestyle design adalah

Lifestyle Design is the design of one’s ideal lifestyle, especially an unconventional one, providing good opportunities for personal growth, leisure and adventure. Detailed methods include: career planning, entrepreneurship and travel.[1]

The term Lifestyle Design (LD) was coined and popularized by Timothy Ferriss in his book The 4-Hour Workweek. Ferriss claims that “People don’t want to be millionaires—they want to experience what they believe only millions can buy.”[2]

The New Rich (NR) are a subculture of people who abandon the “deferred-life plan” and create ideal lifestyles in the present using the currencies of Lifestyle Design: time and mobility. The New Rich focus on 1) Definition of desired lifestyle, 2) Elimination of the irrelevant and unimportant, 3) Automation of cash flow, and 4) Liberation from any single location. (wikipedia)

Saya mulai mengetahui tentang lifestyle design dari buku Tim Ferris, The Four Hour Workweek. Dalam buku ini, dibahas tentang bagaimana berbagai perubahan sosial saat ini memungkinkan orang mempunyai pilihan lebih banyak dalam mensinkronisasi gaya hidup, karier dan kesenangan pribadi. Ide ini menjadi bisa diterapkan saat saya mendapat pekerjaan yang bisa diselesaikan di rumah.

Melalui terminologi lifestyle design, saya jadi sadar bahwa saya bisa berpetualang ke banyak tempat: galeri, toko buku, acara-acara menarik, komunitas-komunitas menarik, dan sebagainya sambil disaat yang sama, tetap menyelesaikan pekerjaan. Bahkan menambah dengan beberapa kesibukan lain. Dengan pekerjaan yang bisa diselesaikan di rumah, saya bisa berhemat. Juga, dengan gaji standar pekerja di profesi saya, membuat saya bisa membeli banyak hal yang selalu saya inginkan. Saya juga bisa membeli baju, memilih tempat-tempat makan yang saya inginkan, apa yang mau dimakan, bersama siapa, dan kapan saya mau makan.

Tapi setelah beberapa bulan menjalani ini, saya melihat bahwa gaya hidup seperti ini hanya pantas dijadikan sebagai sebuah alat, bukan tujuan. Gaya hidup adalah sebuah alat untuk mencapai apa yang selalu kita inginkan. Gaya hidup (seharusnya) bukan sebuah tujuan. Melalui desain gaya hidup, kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa bertemu dengan orang-orang yang ingin kita dekati, dan dengan demikian, mencapai tujuan akhir kita.

Tujuan akhir adalah bagaimana kita bisa memberi nilai tambah bagi orang lain. Terutama bagi orang-orang terdekat kita. Lalu kemudian, seiring dengan waktu, kita akan mampu memberi nilai tambah buat orang-orang yang membutuhkan: mereka yang ada di urutan bawah dari “rantai makanan” kelas sosial.

Ini adalah alasan, yang membuat kita nanti ketika kita sudah mencapai banyak hal dalam hidup; kita tidak akan lagi bertanya-tanya:

“Setelah ini, lalu apa?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s