Religiusitas 2.0: Personal Branding vs Sumber Pencerahan

Ada masa-masa dimana religiusitas pribadi seseorang itu jadi sesuatu yang sangat seksi. Itu adalah masa-masa dimana kita menyimpan segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan manusia-Tuhan dalam batas-batas pribadi kita. Kita menyimpan rapat-rapat hubungan kita dengan Tuhan dalam buku harian, dalam kamar, dan jelas, hanya dalam hati. Hubungan kita dengan Tuhan jadi sesuatu yang hanya-kita-dan-Tuhan-yang-tahu.

Tapi itu dulu. Sekarang religiusitas masuk ke sosial media. Itu jadi trending topic, status Facebook, pembahasan di blog, dan sebagainya. Orang jadi sangat tertarik dengan membicarakan Tuhan di ranah publik. Bagi saya, itu tidak masalah. Tapi mungkin kita perlu memikirkan ulang seperti apa kita membicarakan Tuhan di ranah publik.

Dalam hal membicarakan Tuhan di media sosial, menurut saya ada 2 tipe orang: a) mereka yang menggunakan itu sebagai Personal Branding,  dan b) mereka yang menggunakan itu sebagai Sumber Pencerahan.

> Religiusitas sebagai personal branding: akan fokus ke menunjukkan bagaimana hubungannya dengan Tuhan.

> Religiusitas sebagai sumber pencerahan: akan fokus ke bagaimana religiusitas/spiritualitasnya itu bisa jadi nilai tambah buat orang lain. Nilai tambah itu bisa sebagai pencerahan/ nasehat/ dll.

*Contoh twit religiusitas sebagai personal branding: “i love you God

*Contoh twit religiusitas sebagai sumber pencerahan: “Tuhan membantu orang-orang yang membantu dirinya sendiri“.

Perlu diingat kalo misalnya bagaimana kita menampilkan religiusitas itu bisa berdampak ke bagaimana orang lain melihat/mempersepsikan anda dan ide (agama/kepercayaan/spiritualitas) yang anda bawa di kepala dan hati anda. Jika anda fokus ke menampilkan diri anda sendiri (a.k.a religiusitas sebagai personal branding), anda sedang menempatkan diri anda sendiri sebagai sumber teladan. Kalau suatu saat anda kedapatan berbuat salah seperti layaknya manusia biasa, maka anda langsung jadi batu sandungan buat orang lain.

Sebaliknya, jika anda menempatkan religiusitas sebagai sumber pencerahan (di media sosial), maka anda sedang menempatkan diri anda sendiri sebagai manusia biasa yang sedang dalam perjalanan menuju The Objective Truth itu. Dan jika anda suatu saat berbuat salah, itu akan jadi sangat manusiawi.

Kali ini saya melihat dalam kacamata hitam-putih. Menurut saya, dalam menggunakan media sosial, kita perlu menempatkan religiusitas sebagai sumber pencerahan, bukan sebagai personal branding. Dan biarkan hubungan kita dengan Tuhan menjadi rahasia kita sendiri. Dengan begitu, kita menjadi seksi lagi.

One response to “Religiusitas 2.0: Personal Branding vs Sumber Pencerahan

  1. relibisionist yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s