Starbucks, Twitter dan Cinta

Oke, judulnya agak gimanaaa gitu. Tapi tiga hal itu yang paling mewakili ide-ide besar apa yang saya pikirin sekarang. Jadi begini. Perubahan sosial itu sama seperti cinta: bisa menghasilkan sesuatu yang samasekali berbeda. Satu-satunya yang pasti itu adalah ketidakpastian itu sendiri.

Dalam hal perubahan sosial, agent of change itu kadang bukan cuma para aktivis, pemikir (akademisi/pengamat), tapi justru entrepreneurs. Dan kalau bicara tentang entrepreneurs, ide mereka itu bisa aneh-aneh. Menarik, karena ide-ide mereka justru kadang jadi cikal bakal perubahan sosial selanjutnya. Seperti cinta, perubahan sosial itu terjadi tanpa terkendali, membuat versi baru dari banyak status quo yang selama ini kita tahu. Misalnya, Starbucks dan Twitter.

1. Starbucks

Starbucks dulu itu bagian dari gaya hidup instan ala McDonald. Kedai Starbucks di Seattle dulunya jual kopi dengan cara instan. Para pembelinya antri pagi-pagi buat beli kopi yang diminum di jalan saat sedang berangkat kerja. Kasir Starbucks saat itu identik dengan karyawan bergaji kecil yang hanya butuh untuk terampil dan cekatan melayani pelanggan yang membludak. Harga kopinya juga murah. Adalah Howard Schultz yang kemudian punya ide buat mengadopsi gaya minum kopi di Eropa yang elegan (minum kopi sambil duduk di tempat-tempat yang didesain dengan baik, dengan kursi yang nyaman dan sambil membaca, atau mengobrol ringan).

Ide ini kemudian berhasil, dan Starbucks jadi salah satu penggerak utama perubahan sosial dalam hal gaya hidup. Orang jadi terbiasa minum kopi di Starbucks sambil rapat, menyelesaikan kerjaan, atau sekedar membaca buku. Starbucks menyumbang beberapa kata dalam kamus budaya pop, seperti “barista” dan “frapuccino”. Dan dalam masa-masa meledaknya di dekade 1990an, konon ada satu gerai Starbucks yang baru dibuka setiap hari kerja. Starbucks bukan cuma sekedar bisnis, tapi promotor gaya hidup jenis baru.

Di sisi lain, McDonaldism tidak runtuh. Gaya hidup instan tetap ada dan tetap populer. Hanya, orang sekarang punya pilihan berbeda-beda dalam hal gaya hidup.

2. Twitter

Twitter juga sama. Sejak didirikan tahun 2006 oleh Jack Dorsey, Twitter konon mendorong beberapa perubahan sosial. Melalui #kultwit, beberapa praktisi dan akademisi bilang kalo Twitter merubah alur penyampaian berita dari yang semula:

Rapat redaksi>> reporter (newsgathering)>> redaksi (agenda setting dan kebijakan editorial)>> berita>> publik

Jadi begini>

Publik>> obrolan di Twitter yang populer/ jadi TT>> Rapat redaksi (agenda setting)>> berita>> publik

Oke, tentu saja itu tidak berlaku di semua berita. Itu satu hal. Hal lain adalah tentang gimana distribusi informasi dan pengaruh di Twitter itu jadi lebih terdistribusi. Ini saya pelajari dari Roby Muhammad. Twitter meredefinisi “opinion leader’, dan membuat perubahan sosial jadi susah diprediksi. Sekali-kalinya sudah terjadi, perubahan sosial itu jadi sulit dikendalikan. Contoh: Koin prita. Meminjam bahasanya Malcolm Gladwell, perubahan sosial dalam kasus koin Prita itu sudah mencapai Tipping Point-nya.

Menarik.

Hal yang sama juga terjadi karena motif lain yang jauh lebih abstrak: cinta. Karena 5 huruf itu, seseorang berubah dari tadinya cenderung berkomitmen, jadi malah mudah berpindah orientasi hati (hehehe).

Di sisi lain, yang biasanya ganti-ganti pacar, malah berani menunggu 2 tahun yang super gak jelas di tahun-tahun dia terlihat paling cakep; untuk seseorang yang baru dekat selama 5 bulan.

Begitulah menurut saya. Perubahan sosial itu seperti cinta. Anda tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi apa di kemudian hari. Semua asumsi, stereotipe, atau presuposisi tentang seseorang, atau sesuatu, akan mudah sekali menjadi tidak relevan (tidak relevan = bahasa halus untuk “salah”).

Dan kendali untuk perubahan sosial itu ada di tangan (atau kepala) para entrepreneurs; sama seperti perubahan-perubahan karena cinta itu terjadi di hati manusia.

Dan sama seperti cinta yang butuh serendipity, perubahan sosial juga butuh momentum Tipping Point.

Bagi saya sendiri, cinta juga banyak merubah saya. Dulu saya mudah berkomitmen dan bisa melakukan hal2 yang “terlalu niat” hanya karena urusan hati. Tapi ini dan itu terjadi, dan urusan komitmen jadi jauh lebih rumit dari sebelumnya, sehingga saya sekarang cenderung sangat sulit berkomitmen.

Saya, dalam hal ini, bukan termasuk ke dalam para entrepreneurs yang mengubah dunia itu. Saya hanya salah satu yang membicarakan tentang ini dan itu di kedai-kedai kopi. Mungkin bersama anda. Mungkin bersama yang lain. Tapi yang jelas, itu hanya untuk saat ini. Sama seperti perubahan sosial, dan seperti cinta; kita tidak pernah tahu kapan kita akan berubah menjadi apa, oleh siapa.

Nb:

1. Oke, harusnya banyak ide-ide yang dikutip dengan lebih baik. Lain kali saya akan menulis #kultwit dari siapa yang saya kutip.

2. Ada beberapa buku yang jadi referensi semua yang saya tulis disitu: Starbucked: A double tall tale about caffeine, commerce and culture; The Starbucks Experience; The Tipping Point dan Ideavirus.

One response to “Starbucks, Twitter dan Cinta

  1. BUng reney.. saya punya pertanyaan.

    Kapan kira2 dunia berubah? beralih dari sepak bola?
    Kapan jiwa kekanakan kita berubah? berhenti senyam senyum berkhayal main WE di akhir pekan?

    atau ternyata dunia memang sudah berubah. hanya dunia kecil di kepala saya yang belum berubah, karena hanya hati kecil dalam diri saya belum rela berubah.

    *numpang mracauw :p,
    tapi pertanyaan gw serius ney.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s