Tentang Inside Job dan EkoPol

Kemarin saya nonton Inside Job. Filmnya lumayan seru, tentang Political Economy di financial industry paling powerful di dunia: Amerika Serikat. Topik yang dibahas spesifik tentang hubungan tiga serangkai ABG (Academic – Business – Government) dalam kaitannya ke krisis finansial 2008.


(image: comingsoon.net)

Di film itu dibahas gimana peran tokoh-tokoh di tiga bidang itu buat mendorong krisis yang ternyata menguntungkan buat orang-orang kaya dan mematikan buat orang-orang miskin. Para manajer investasi dari Merryl Lynch, CitiGroup, Goldman Sachs, dll yang sebenernya bertanggung jawab ternyata bebas dari hukuman, malah dapet bonus waktu mereka resign. Tapi orang-orang yang engga tau apa-apa kena dampaknya, mulai dari lapangan kerja yang tiba-tiba hilang, lay off besar-besaran, harga saham jatuh, dll. Para eksekutif dari perusahaan-perusahaan investasi itu bisa dibayar pesangon USD 60-90 juta dari dana pemerintah yang sebenernya dari dana pajak, alias dana rakyat.

Itu dari pelaku bisnis. Kalo peran dari pemerintah AS adalah pengangkatan orang-orang bisnis itu ke jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Orang-orang itu misalnya Ben Bernanke dan Henry Paulson yang sebelumnya otak dari gelombang krisis itu justru diangkat jadi kepala Federal Reserve. Pemerintah AS juga “diserbu” orang-orang dari dunia bisnis. Satu senat di kongres dideketin sama 5 lobbyist dari Wall Street buat pengaruhin kebijakan biar lebih pro bisnis.

Nah, ternyata dari kaum Academics juga termasuk. Para ekonom dari beberapa kampus ivy league ternyata juga konsultan kebijakan pemerintah plus senior executives dari perusahaan-perusahaan investasi rakus itu. Hasilnya, seperti yang dibilang sama Dominique Strauss Kahn, Managing Director IMF:

“As usual, the poor will always the one who pay the most”.

Mereka, yang ada di kelas sosial bawah, harus  rela jadi yang paling menderita. Di Indonesia juga begini kejadiannya.

Eh tapi bukan itu poinnya. Apa yang saya mau bilang adalah bahwa film ini bikin saya tertarik lagi sama apa yang dulu suka saya gali, tentang Ekonomi Politik. Kalo kata Robert Babe, Ekonomi Politik adalah tentang relasi kekuasaan yang mempengaruhi produksi, distribusi dan konsumsi kekayaan, pendapatan dan sumber daya -termasuk sumber daya berupa informasi dan komunikasi.

Saya sih tidak tahu apa gunanya saya baca-baca tentang Ekonomi Politik. Thesis saya sepertinya tidak akan menyinggung tentang itu. Bidang ilmu tentang Ekonomi Politik juga sepertinya akan berorientasi untuk menjelaskan atau membongkar fenomena yang terjadi, bukan untuk sebagai panduan bagi fenomena yang akan datang.

Tapi entahlah. Seperti saya suka banyak hal lain yang tidak relevan, misalnya, folklores, mitologi dan sebagainya, seperti itu juga saya suka Ekonomi Politik. Pastinya dalam kaitan ke media studies / cultural studies.

(image: polemarchus.wordpress)

Terakhir, buat nutup tulisan nanggung ini, saya inget kutipan dari Pramudya Ananta Toer: Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Bumi Manusia).

Ck… semoga bisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s