Category Archives: About ideas and inspirations

Masa Depan

When a person has passion and commitment, it makes little difference what they are doing. Because whatever it is has a vital integrity which exposes them totally and without shame. Such people have an innocence which life does not touch. Usually they do not fit well with mainstream and are certainly not going to give time to events without purpose. They are busy. Engaged in activity that nurtures their creativity.

-Christine Ann Engel, 101 Ideas to Save the World

Saya menemukan kutipan itu disini. Beberapa jam sebelumnya, saya sempat menonton The Book of Eli. Dan film itu menggambarkan karakter Eli yang punya kecenderungan seperti kutipan ini juga.

Intinya, passion dan commitment itu seperti kompas. Dua ini akan menunjukkan jalan ke apapun yang akan kita lakukan setelah ini. Dua hal ini yang membantu kita memilih buku yang kita baca, profesi yang akan dijalani, atau sederhananya, apapun yang akan kita lakukan sekarang.

Dan lebih dari itu, dua hal ini akan membantu kita membuat keputusan-keputusan sulit seperti: acara/ ajakan apa yang harus kita tolak, tawaran apa yang lebih baik tidak diterima, atau pilihan-pilihan lain apa yang lebih prioritas dibandingkan yang lain. Di film The Book of Eli, kelihatan kalau passion dan commitment membuat Eli bisa sampai ke “Barat”, sesuai dengan bisikan yang pernah dia dengar dalam hati.

Apa panggilan anda?

Apa yang mencuri perhatian anda terus menerus sampai-sampai itu membuat anda punya dua hal itu; passion dan commitment?

Bagi beberapa orang, itu kariernya. Bagi beberapa orang, itu anaknya. Bagi yang lain, itu keluarganya. Atau Tuhannya. Atau bahkan, untuk beberapa orang, hal itu adalah negaranya. Semuanya memilih dunianya sendiri-sendiri. Saya hanya berharap, anda punya pilihan anda sendiri, lalu tenggelam disitu. Dan setelah itu, saya hanya berharap:

…bahwa suatu saat, Pencipta Ruang dan Waktu bisa menundukkan ruang dan waktu, dan membuat mimpi-mimpi yang kalian kejar, saling bersinggungan satu sama lain, untuk suatu tujuan yang jauh lebih besar dari apapun yang bisa kita pikirkan.

Ini diambil dari posting blog sebelumnya, berjudul, “Mengejar Mimpi“. Bagi saya sekarang, “tujuan yang jauh lebih besar dari apapun yang bisa kita pikirkan” berarti memberi nilai tambah untuk orang lain (dalam arti yang luas).

Tapi dari pengalaman saya lihat bahwa kita sering meredefinisi ulang banyak hal dalam pengertian yang semakin baik. Anda bisa bayangkan kehidupan yang lebih hebat daripada “memberi nilai tambah untuk orang lain”? Saya belum. Itulah kenapa saya tersenyum saat melihat masa depan.

Not good enough for love?

Merasa cukup baik untuk orang yang kamu sayangi?

Saya baru saja berdiskusi dengan teman lama tentang kecenderungan bahwa kadang, kita tidak bisa cukup baik untuk orang yang kita sayangi. Mungkin awalnya, iya. Tapi kemudian, karena kita tidak bertambah hebat secara terus menerus dalam kecepatan yang luar biasa, dan karena keinginan tak terbatas dari manusia untuk selalu mendapat lebih, kita sadar bahwa kita kadang tidak cukup baik untuk orang itu.

Kadang, pilihan paling baik adalah berhenti menyenangkan orang lain, biarpun itu orang yang kita sayangi. Seperti kutipan ini:

“I quit, I give up, nothing’s good enough for anybody else, it seems…When I’m all alone it’s the best way to be. When I’m by myself nobody else can say goodbye. Everything is temporary anyway.”

Lebih baik berhenti mengagumi seseorang, mengeluarkannya dari kepala, menghapusnya dari ingatan, melupakan nomornya, berhenti menyapa di YM, tidak lagi melihat-lihat halaman Profile Facebook-nya, tidak lagi membicarakannya dengan teman, berhenti mengira-ngira dia sedang melakukan apa, stop mendaftar tempat-tempat menyenangkan untuk bertemu, dan membuang semua hal yang berhubungan dengan orang itu. Lebih baik melakukan semua itu, daripada terus-menerus dirubah untuk selalu menjadi lebih baik, demi memuaskan apa yang sebenarnya tidak bisa puas.

Itulah kenapa, kadang, beberapa orang, termasuk saya, lebih suka tenggelam dalam kesibukan sendiri. Itu untuk terus-menerus berlari mengejar bayangan kesempurnaan tentang diri sendiri, agar mungkin suatu saat, entah kapan, bagaimanapun caranya, saya bisa cukup baik untuk bersama seseorang.

Blogger’s Block

(this is a self help writing, for my own problem, in my own blog. Its not worth to be followed)

The drama of daily life seems to be not helpful. Current issues seems to be worthless news. The problems, the success, and all new things in life seems to be add nothing to your idea bucket. You tried.. and tried… and tried…. and nothing seems to be make sense. You opened your Microsoft OneNote page, or Word, or even Notepad, the very same step you took when you want to write something. But again, everything seems to be useless.

This is writer’s block. Or in this case, blogger’s block. You became unable to write anything worth read. Or at least, you assume to be worth read. This is what exactly what i feel right now.

Maybe you feel it too. Maybe you think that all the idea in the world has gone, hiding in the middle of nowhere. Well, this is what i feel.. and what i want to share right now. And this are what i assume could be a  solvent:

1. Problem

Maybe this because you have a problem. Maybe you occupied with bills, housing rent, stress from job, or else. Take a minute-or an hour, to think about yourself. How’s this month been going so far? How’s job? What about your family? Do you think you have succeed you monthly goals? Or actually, deep inside you heart, you think that you’ve failed? That your life isn’t one that you wanted. Or something wrong with your spouse that sucked up your energy.

If this is your problem, there are some things that can be done:

> write your problem

Write your problem. Make yourself the star of your own novel. Start your new adventure – though its just inside your head. Make writing a self-help therapy. Treat your problem as an inspiration.

> find your problem, and deal with it

Through the reflection moment, you will find out the problems. You will notice what you’ve been hiding from others, and also from yourself. Deal with it. Maybe, writer’s block -or blogger’s block, is a sign that something wrong with your mind and soul.

2. Boredom

If there main problem is just some boredom, then first, you should admit it. Admit that you bored with writings. Admit that poems and movie quotes are not attractive again. Admit that you bored with those fake inspirations; because they’re just commodity to meet the demands of mass market. Or maybe, admit that you’ve been reading, watching, and listening too much, that you feel that nothing satisfy you anymore.

Stop reading books. Stop listening good music. Stop watching good films. Just think. And write. Maybe, too much input will make you confuse what to write.

3. The Past

Stop underestimate and overestimate yourself. If you wrote a good piece in the past, throw it away to the dirtiest garbage can. And if you wrote a piece of junk, praise yourself for writing an honest work, and a great start. Don’t be occupied with the past.

Well, this is all i can come up now. Bless me.

Gaudeamus Igitur!

Saya selalu mengira kata-kata “gaudeamus igitur” itu artinya sesuatu yang agung. Apapun itu artinya, pastilah tentang sesuatu yang mulia, yang benar… pokoknya yang hebat dan terkesan “pintar”. Lagipula, saya pertama kali mendengar lagu gaudeamus igitur itu saat penerimaan mahasiswa sekaligus acara wisuda di UI.

Empat tahun setelah saya pertama kali dengar lagu itu, saya dengar lagi. Di acara yang sama: wisuda, sekaligus penerimaan mahasiswa baru. Kalau dulu saya dengar sebagai mahasiswa baru, sekarang saya dengar sebagai mahasiswa yang diwisuda.

Dan kesan saya sama: itu adalah lagu agung pengiring kedatangan rektor beserta dekan dan pejabat universitas lainnya.

Setelah saya cari info mengenai lagu itu, ternyata isinya berbeda sekali dengan harapan saya. Lagu itu bukan lagu dengan kata-kata agung dan “pintar” atau “jenius” khas professor. Gaudeamus igitur itu sendiri artinya bukan “belajarlah dengan keras”, atau sejenisnya. Kata-kata “gaudeamus igitur” itu  ternyata artinya “marilah kita bersenang-senang”.

Dan judul lagu itu adalah “dalam singkatnya kehidupan” (De Brevitate Vitae).

Saya ternyata salah. Para rektor itu ternyata kumpulan orang-orang yang lucu dan santai. Bayangkan, saat upacara wisuda, saat mereka semua datang ke ruangan, mereka disambut dengan kata-kata “mari bersenang-senang”. Lepaskan gambaran rektor sebagai orang tua berkacamata yang agung dan pintar. Lekatkan kata rektor dengan gambaran orangtua yang gendut dan selalu tertawa, sambil memegang bir dan menepuk bahu kita dengan kata-kata “ayo kita bersenang-senang, nak! Ho.. ho.. ho!”

Saya merasa ditipu. Saya selama ini sepertinya terlalu serius. Ternyata hidup ini bukan (hanya) perlombaan “siapa dapat mainan paling banyak” ala Rat Race, tapi lebih kepada sebuah pesta besar. Hidup ini bukan acara orang-orang susah yang berburu sesuatu demi menyambung hidup dan menyombongkan diri didepan orang-orang lain, tapi lebih kepada sebuah perayaan besar. Perayaan atas eksistensi diri kita di dunia. Perayaan bahwa kita ada, bernafas, bergerak, tanpa henti sampai saat yang kita tidak tahu. Sebuah perayaan akan kehidupan!

Saya hidup. Kamu hidup. Kita hidup. Dan karena kita tidak hidup selamanya, marilah kita merayakannya. Itulah spirit dari lagu Gaudeamus Igitur.

Saya butuh waktu sebentar untuk benar-benar mengerti semangat ini. Saya pikir hidup itu harus serius. Pakaian itu harus rapi. Omongan harus diatur. Tetapi saya lupa. Dunia ini bukan sebuah sekolah yang ketat. Bukan sebuah lomba lari, dimana yang menang dapat semua, dan yang kalah dibuang. Dunia itu sebuah kantin di waktu istirahat sekolah. Sebuah resepsi.

Bersenang-senanglah!

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus.
Post jucundam juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Mari kita bersenang-senang
Selagi masih muda.
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Tanah akan menguasai kita.

Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.

Kemana orang-orang sebelum kita
Yang pernah hidup di dunia ini?
Terbanglah ke surga
Terjunlah ke dalam neraka
Bila kau ingin menjumpai mereka

Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.

Hidup kita sangatlah singkat
Berakhir dengan segera
Maut datang dengan cepat
Merenggut kita dengan ganas
Tak seorang pun mampu menghindar

Vivat academia!
Vivant professores!
Vivat membrum quod libet
Vivant membra quae libet
Semper sint in flore.

Panjang umur akademi!
Panjang umur para pengajar!
Panjang umur setiap pelajar!
Panjang umur seluruh pelajar!
Semoga mereka terus tumbuh berkembang!

Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae, amabiles
Bonae, laboriosae.

Panjang umur para gadis!
Yang sederhana dan elok
Juga, hidup para wanita!
Yang lembut dan penuh cinta
Jujur, pekerja keras

Vivant et res publica
et qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.

Hidup negaraku!
Dan pemerintahannya
Hidup kota kami!
Dan kemurahan hati para dermawan
Yang telah melindungi kami

Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.

Enyahlah kesedihan
Enyahlah kebencian
Enyahlah kejahatan
Dan siapa pun yg anti mahasiswa
Juga mereka yang mencemoh kami

Jurnalisme Twitter?

Saya baru saja membaca sebuah artikel di koran tentang peran Twitter menyebarkan informasi saat detik-detik awal terjadinya bom Mega Kuningan, kira-kira satu minggu lalu. Banyak hal menarik yang saya temukan dalam artikel itu.

Pertama, penulis artikel itu menyamakan Twitter dengan jurnalisme. Peran Twitter dalam menyebarkan informasi disetarakan dengan praktek jurnalisme yang selama ini kita kenal. Pada Twitter, informasi disebarkan melalu status updates yang entah kenapa, lebih cepat berubah dari status updates yang ada di Facebook. Hal inilah yang menurut penulis artikel koran tersebut, sangat membantu penggunanya untuk mendapatkan informasi mengenai bom Mega Kuningan. Dia lalu menempelkan berkali-kali “Twitter” dan “jurnalisme”, sehingga abrakadabra! Lahirlah frase baru: Jurnalisme Twitter.

twitter_logo

Apakah itu benar?
Perlu diingat bahwa Twitter adalah sebuah situs jejaring sosial. J-e-j-a-r-i-n-g  s-o-s-i-a-l.
Twitter bukan media online. B-u-k-a-n  m-e-d-i-a  o-n-l-i-n-e.

Kenapa saya norak dalam menuliskan karakteristik dasar Twitter ini? Karena fungsi Twitter sebagai situs jejaring sosial benar-benar menjelaskan peran Twitter. Situs ini, lebih seperti tempat bergunjing maha luas. Bayangkan ini sebagai sebuah café besar. Atau forum bebas di sebuah kantin. Atau balai pertemuan. Intinya, ini adalah tempat bersosialisasi di dunia maya. Proses komunikasi yang terbentuk adalah karena relasi, bukan informasi. Kalaulah ada informasi yang disebarkan, maka itu adalah efek yang tidak terhindarkan dari diseminasi informasi. Informasi ikut disebarkan karena adanya nilai berita yang sangat besar:

bom meledak lagi di Mega Kuningan, empat hari sebelum kedatangan MU dan bertepatan dengan penghitungan hasil pemilu presiden.

Topik itu kemudian jadi bahan obrolan [bukan berita] dalam Twitter. Inilah diseminasi informasi.

Situs komunitas sosial: diseminasi informasi
Media online: berita dalam format digital

Diseminasi informasi: informasi + gosip + dugaan + khalayan
Berita dalam format digital: informasi [saja]

Diseminasi informasi: dimensi relasi
Berita dalam format digital: dimensi isi

Kedua, yang menarik dari artikel di koran itu adalah pemakaian bahasa Inggris “Twitter Journalism“. Penulisnya mungkin seorang yang cerdas, modern, dan mampu berbahasa Inggris, tetapi lupa bahwa Twitter adalah nama, dan tidak perlu sama sekali menyesuaikan kata “jurnalisme” menjadi “journalism”.  Mungkin ia pernah sesekali membaca frase-frase unik macam “cultural industry“, “yellow journalism” dan sebagainya, sehingga ia berpikir: “Aha! Lucu juga kalau pakai bahasa Inggris”. Atau, ia mungkin berpikir bahwa semua ide yang sudah dirapikan dalam bentuk konsep itu harus dialihbahasakan menjadi bahasa Inggris.

Ah, apa ini yang saya tulis. Mungkin saya lupa bahwa sekarang ini bukan jaman Rosihan Anwar atau Muchtar Lubis. Saya lupa, ini sudah tahun 2009… ini jamannya Manohara dan Cinta Laura. Aih… saya perlu ingat itu baik-baik kalau mau tetap waras di jaman ini.

Tentang Kematian

Ada ungkapan ‘mulailah hidupmu dengan mengingat-ingat kesan apa yang ingin kamu tinggalkan saat kamu mati’. Saya lebih setuju kata-kata Sidney Mohede:

‘One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching’

Soal persepsi orang terhadap kita saat kita sudah meninggal, itu bukan urusan kita. Kadang kita harus mengambil keputusan yang bagi orang lain buruk, tapi kita tahu pasti itu benar. Atau, kalau kita alergi terhadap kata “benar” karena terlalu relatif, kita bisa ganti dengan “paling berharga pengorbanannya”; ‘for greater good‘.

Persepsi orang terhadap kita, tidak sepenuhnya ada di kendali kita. Tapi, kita tahu pasti apa pertimbangan-pertimbangan terdalam kita. Dan itulah yang akan diputar kembali beberapa detik sebelum kita meninggal. Didalam hitungan detik itu, entah bagaimana, sistem memori akan me-recall gambar-gambar kejadian masa lalu kita, setting peristiwanya, konteks masalahnya, dan apa pertimbangan-pertimbangan kita.

Saya tidak sedang mengajari kamu tentang how-to-live-your-life-to-the-fullest, tapi lebih kepada membagi pertanyaan besar yang suka sekali menggelayut dikepala saya:

Am I doing good?
Apa keputusan ini benar?
Apa ini gambar-gambar yang ingin saya lihat nanti beberapa detik sebelum nafas saya habis?

Apa orang yang kamu rencanakan buat jadi pasanganmu itu sudah paling cocok?
Apa pilihan karier yang kamu putuskan itu sudah paling benar?
Apa isu-isu spiritualitas yang kamu tentukan itu sudah cocok?

Saya jadi ingat kata-kata dalam profil Facebook seorang teman: “we’re all in the gutter, but some of us are looking at the stars” -Oscar Wilde.

[But how will you define ‘gutter’ ? And what ‘star’ worth looking to?]

Ah entahlah. Yang jelas, apa yang ingin saya tonton nanti saat sebelum mati adalah seperti ini:

Potongan video-video singkat, seperti iklan. Isinya harus sangat lucu, dengan sedikit horor, ditambah banyak sisi sentimentil yang rahasia, diselingi adegan fiksi sains yang belum terjawab, ditambah banyak teka-teki yang akhirnya selesai – maupun yang kelupaan untuk diselesaikan, menyentuh isu-isu dasar kemanusiaan, yang semuanya itu diisi dengan narasi dari suara saya sendiri, dan akhirnya, ditutup dengan satu happy ending.

Angin dan Gravitasi

Saya ingin sekali main bungee jumping sampai-sampai saya suka berkhayal sedang melakukannya. Jadi, saya akan pakai alatnya di pinggang, lalu instruktur saya akan menjelaskan sebentar tentang teknis-teknisnya… lalu saya bersiap-siap di pinggir jurang.

Saya berhenti sebentar, menahan nafas, lalu melihat kebawah.

Dibawah, kira-kira tiga ratus meter jaraknya, ada danau. Itu jauh sekali sampai-sampai kepala orang yang sedang berenang disana hanya terlihat seperti beras. Orang-orang berteriak-teriak dari bawah, tapi suaranya hampir tidak terdengar karena jauh. Angin terasa kencang sekali, karena tempat saya berdiri itu tinggi. Lalu saya berdoa sebentar dalam hati, kemudian memeriksa sebentar ikatan-ikatan pengaman.

Lalu, saya lompat.

bungee_jumping_29d

Saya membuka tangan, sambil tiba-tiba merasa kehilangan kontrol atas apapun. Kontrol atas diri saya sudah diambil alih gravitasi! Saya jatuh dengan cepat kebawah, kira-kira secepat pesawat militer yang sedang menukik! Oke, berlebihan. Mungkin secepat burung yang sedang menukik!

Saat melayang itulah, yang membuat kerepotan sebelum dan sesudahnya jadi impas. Saya bebas! Ketiadaan kontrol justru membuat saya sangat bebas! Saya tidak perlu khawatir tentang deadline, masa depan, uang, pacar, rencana, kondisi politik, perasaan kesepian, bencana alam, keluarga, kondisi ekonomi, harapan, konflik dengan negara tetangga, selebriti yang bercerai, Juventus yang sedang tidak baik kondisinya, tugas, harapan-harapan orang lain, anak-anak muda di daerah terpencil, saudara yang kurang beruntung, dan jutaan hal lainnya.

Saya dikuasai oleh gravitasi. Dan angin. Dan setiap jarak didalam lompatan -atau kejatuhan- itu seperti perayaan besar akan keberadaan saya. Hai dunia, saya ada!! Tidak perduli masalah-masalah diatas, tidak perduli apa kata orang,  saya ada disini! Dan saya menikmatinya.

Saya jadi ingat, bahwa mungkin, perasaan yang sama terjadi saat kita menyayangi seseorang. Banyak hal kita tunda dulu untuk dipikirkan: apakah dia suka saya, apakah dia sedang suka orang lain, apakah dia akan mengecewakan, bagaimana nanti dengan ini, bagaimana nanti dengan itu, bla bla bla. Yang penting adalah saat “S” dan waktu “W”. Itulah yang membuat kita seolah ingin berhentikan waktu sebentar, dan menyesap semua kebahagiaan disaat itu. Itulah juga yang membuat semua ancaman -baik yang nyata maupun yang cuma di kepala kita- menjadi hilang.
Saat itulah, kita menjadi tidak perduli lagi dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin datang. Well, kemungkinan buruk akan selalu ada. Tapi ada hal lain yang lebih menarik: angin dan gravitasi. Silakan terjemahkan angin dan gravitasi sesukamu. Apakah itu orang, pekerjaan, benda, hobi, atau apapun.

Saya tahu apa yang menjadi angin dan gravitasi bagi saya. Saya mencatatnya diam-diam.

Dan entah kenapa, tulisan itu setiap hari semakin tebal.