Category Archives: About people and perceptions

Protected: Save your last dance for me

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Midnight sale dan konsumerisme

Hari raya itu identik sama diskon. Beberapa tahun belakangan di Jakarta banyak pesta diskon yang adanya tengah malem, namanya Midnight Sale. Orang-orang belanja barang-barang yang jadi mahal karena ada tulisan nama beberapa orang atau beberapa kata absurd yang kita kenal dengan sebutan “merek”.

Saya tidak munafik, saya tertarik banget dengan barang-barang itu. Saya pikir saya butuh kemeja, celana, sepatu baru. Bukan apa-apa, kan buat perlengkapan kuliah. Hehe.

Tapi kemudian saya baca artikel Is Consumerism Killing Our Creativity? di the99percent.com.

Menarik sekali. Disitu ditulis kalau hasrat kita membeli barang-barang itu sama seperti dorongan kreatif kita yang bisa muncul tiba-tiba.

Katanya, hasrat untuk memiliki sesuatu dalam dunia material itu sama seperti hasrat yang sama ketika pikiran atau kreativitas kita muncul di dunia ide. Dorongan yang sama untuk membeli handphone baru, atau baju baru, atau sepatu baru, itu sejenis dengan dorongan ketika kita mau menulis posting blog baru, atau mendesain sesuatu.

Tapi sayangnya, budaya konsumerisme itu katanya bisa membunuh kreativitas. Di Newsweek, ada artikel “The Creativity Crisis“, isinya tentang gimana riset menemukan kalau kreativitas secara umumnya di AS menurun. Ada poin penting banget disitu, tentang gimana hardship (kesusahan) bikin orang lebih kreatif:

It’s also true that highly creative adults frequently grew up with hardship. Hardship by itself doesn’t lead to creativity, but it does force kids to become more flexible—and flexibility helps with creativity.

Aha! Mulai terpikir kan gimana dampaknya budaya konsumerisme di Indonesia?

Ekonomi Indonesia itu bergantung sekali dari besarnya pasar disini. Memang, budaya konsumerisme itu bikin pertumbuhan ekonomi Indonesia jadi bergerak cepat. Tapi budaya konsumerisme juga bisa bikin tumpul.

Saya jadi ingat beberapa kutipan di The Fight Club, salah satu film kesukaan saya.

The things you own end up owning you.  It’s only after you lose everything that you’re free to do anything.

Saya ingin beli barang yang saya butuh saja, jadi saya bisa bebas hidup sebagai sebuah variabel independen di dalam kehidupan yang absurd dan sangat singkat ini.

Exception

Most people never change. No matter how far things around them has changed, and no matter for how long you’ve been hoping them to change, they’d stay just the same.

But we know that for everything, there is always a room for an exception. Sometimes rain fell heavily in the hot season in Jakarta. Even a corrupt country like Indonesia now can enjoy surprisingly high economic growth in the middle of global recession.

We know that there is always a tiny little room for an exception. And that idea of a tiny little room for exception has become the reason for us to believe that this person MIGHT change.

Then we’re concentrating on fixing things. Praying. Reading books. Learning others and ourselves. Or basically everything that can help him change.

As time goes by, through many struggles and disappointments, we might not been succeeded in witnessing him changed. But we know for sure that someone else has changed: we are.

Life mystery #5

Dulu katanya, pengetahuan itu kekuatan > “knowledge is power”. Tapi lama kelamaan, saya merasa ada sisi lain dari pengetahuan, yaitu kutukan. Knowledge is a curse.

Semakin banyak tahu tentang fakta dan fiksi-nya dunia; semakin banyak membolak-balik sebuah ide; atau berjalan dari satu pendapat ke pendapat lain yang benar-benar bertentangan, malah bikin bingung.

Ada dua pilihan yang bisa diambil: pertama, untuk jadi benar-benar acuh (ignorant), atau jadi benar-benar perduli. Acuh akan menyenangkan. Tapi orang-orang yang memilih untuk jadi perduli, akan jauh lebih bisa merasa puas. Dalam hal ini, orang-orang yang memilih untuk perduli, bisa dikenali segera. Pramudya Ananta Toer adalah salah satunya.

Itu satu hal. Satu lagi tentang ‘The Curse of Knowledge’ (cieilah bahasa gue) adalah sulitnya bicara kalau terlalu banyak ide yang bersambung-sambung dengan sebuah topik.

Ini ada tulisan yang benar-benar nyambung, diambil dari sini (klik):

when we know something, it becomes hard for us to imagine not knowing it. As a result, we become lousy communicators. Think of a lawyer who can’t give you a straight, comprehensible answer to a legal question. His vast knowledge and experience renders him unable to fathom how little you know. So when he talks to you, he talks in abstractions that you can’t follow. And we’re all like the lawyer in our own domain of expertise.

Saya bukan merasa sudah ahli. Tapi, waktu saya ingin menjelaskan sesuatu ke orangtua saya tentang sebuah topik yang benar-benar sedang saya sukai, itu jadi sulit sekali untuk menjelaskan dengan bagus.

That’s it, guys. Pengetahuan adalah kutukan. Selamat bersenang-senang!

Not good enough for love?

Merasa cukup baik untuk orang yang kamu sayangi?

Saya baru saja berdiskusi dengan teman lama tentang kecenderungan bahwa kadang, kita tidak bisa cukup baik untuk orang yang kita sayangi. Mungkin awalnya, iya. Tapi kemudian, karena kita tidak bertambah hebat secara terus menerus dalam kecepatan yang luar biasa, dan karena keinginan tak terbatas dari manusia untuk selalu mendapat lebih, kita sadar bahwa kita kadang tidak cukup baik untuk orang itu.

Kadang, pilihan paling baik adalah berhenti menyenangkan orang lain, biarpun itu orang yang kita sayangi. Seperti kutipan ini:

“I quit, I give up, nothing’s good enough for anybody else, it seems…When I’m all alone it’s the best way to be. When I’m by myself nobody else can say goodbye. Everything is temporary anyway.”

Lebih baik berhenti mengagumi seseorang, mengeluarkannya dari kepala, menghapusnya dari ingatan, melupakan nomornya, berhenti menyapa di YM, tidak lagi melihat-lihat halaman Profile Facebook-nya, tidak lagi membicarakannya dengan teman, berhenti mengira-ngira dia sedang melakukan apa, stop mendaftar tempat-tempat menyenangkan untuk bertemu, dan membuang semua hal yang berhubungan dengan orang itu. Lebih baik melakukan semua itu, daripada terus-menerus dirubah untuk selalu menjadi lebih baik, demi memuaskan apa yang sebenarnya tidak bisa puas.

Itulah kenapa, kadang, beberapa orang, termasuk saya, lebih suka tenggelam dalam kesibukan sendiri. Itu untuk terus-menerus berlari mengejar bayangan kesempurnaan tentang diri sendiri, agar mungkin suatu saat, entah kapan, bagaimanapun caranya, saya bisa cukup baik untuk bersama seseorang.

Tapi kamu digaji kan?

Dalam sebuah obrolan antara mama, tante dan saya, seperti biasa, kita saling berbagi kabar masing-masing. Dan seperti biasa, (seingat saya) saya jarang bercerita tentang kabar saya sendiri, sebelum orang lain bertanya dulu. Akhirnya tante saya bertanya.

Tante: Kamu kerja apa sekarang? Udah enggak di CBN kan?

Saya:  Engga, udah pindah.

Tante: Oh gitu.. Dimana kantornya? Sekarang pindah kosan dong? Apa pergi-pulang?

Saya: Di Buncit. Tapi biasanya dirumah. Saya kerja dari rumah.

(raut mukanya mulai berubah. Saya merasa dia melihat saya, entah sebagai alien, atau pembohong)

Tante : Wah enak ya.. tapi kamu digaji kan?

Saya: ……iya….


Well… itu salah satu obrolan sore hari yang aneh. Tidak heran, orang biasanya bingung saat tahu bahwa saya bekerja dari rumah. Saya bahkan maklum kalau tetangga-tetangga mengira saya pengangguran. Susah sekali menjelaskannya. Saya bingung mau mulai dari mana. Kalau mau dirunut sih, aktivitas saya sekarang itu karena penelitian ilmuwan CERN, diantaranya Tim Berners Lee… yang pada akhirnya menggelinding menjadi satu kata: internet. Wah ini saja akan membuat orang malas bertemu saya lagi.

Jadi saya putuskan, bahwa saya tidak akan memperpanjang hal ini lagi. Beberapa harus dibuat tetap sederhana. Jadi, biarlah para tetangga tetap menganggap saya pengangguran… dan tante saya tetap menganggap saya aneh. Untung saja orangtua saya bisa mengerti. Satu-satunya yang tidak bermasalah sama sekali, mungkin hanya dua makhluk: si Putih dan si Bogel, dua anjing saya. Mereka setia sekali mengajak bermain, biarpun saya lengket di depan laptop.

Tentang bekerja dari rumah, mungkin saya termasuk ke dalam generasi millenials. Beberapa referensi mungkin dapat menjelaskan apa artinya itu.

Newsweek’s “Millenials: The Worker of The Future?”

Whatever you make of this attitude—smart, entitled, tech savvy, risky, or bold—Benton is arguably the prototype of the new and perhaps ideal worker in the post-recession economy. Like many millennials, a.k.a. Generation Yers, he does not mind flitting from project to project and doesn’t miss the traditional climb up the corporate ladder. He does not look to companies to provide safety nets such as health insurance, 401(k)s, or paid sick leave.

Intinya, millenials adalah bagian dari gaya hidup baru, termasuk dalam hal memilih pekerjaan, dimana seseorang bisa bekerja dari rumah. Memang, tidak semua profesi bisa melakukan pekerjaan dari rumah. Dokter, perawat, kuli, barista, termasuk jenis profesi yang tidak bisa dikerjakan dari rumah.

Tapi bagi beberapa orang, khususnya para Generasi Y, memilih pekerjaan yang disukai, dan melakukannya dengan cara yang efisien, seperti bekerja dari rumah, merupakan pilihan yang sangat menyenangkan. Anda bisa lebih fleksibel dengan waktu anda, dan tidak terjebak dalam rush hours harian yang kadang mengurangi produktivitas.

Di Indonesia, jumlah pekerja yang menyelesaikan pekerjaan dari rumah masih sangat sedikit. Itulah kenapa saya disangka pengangguran.

Keindonesiaan

Dalam sebuah acara kampanye presiden di televisi berbentuk talkshow antara salah satu calon presiden dengan pemirsa di studio, saya menjadi teringat dengan salah satu hal yang paling dasar sebagai warga negara Indonesia:

identitas ke-Indonesia-an itu sendiri.

Salah satu pemirsa acara itu bertanya:
“Ibu Mega, teman-teman saya banyak yang memilih tinggal diluar negeri. Mereka beralasan tinggal di negara lain seperti Australia itu lebih damai, stabil, dan sebagainya. Bagaimana menurut ibu?”

Dan Ibu Mega, kalau tidak salah menjawab seperti ini:
“Yah itu kan mereka. Kalau diluar negeri kita kan tidak dapat melakukan hal-hal yang seperti ada di Indonesia. Bagaimana kalau nanti sore-sore kita pingin makan bakso? Kan disana tidak ada yang jual bakso.”

[mungkin detailnya salah, tapi yang jelas, kata kunci dan ide utama dari perkataan ibu Mega saat itu adalahbakso“]

Salahkah pendapat Ibu Mega? Tentu saja tidak. Itu adalah konstruksi ke-Indonesia-an dari Ibu Megawati Soekarnoputri, anak salah satu founding fathers Indonesia. Dan siapapun juga, termasuk anak salah seorang founding fathers berhak untuk mendefinisikan keunikan Indonesia serta keseluruhan identitas ke-Indonesia-an sebagai “negeri yang disitu banyak baksonya”.

[saya jadi ingat, dulu bangsa Israel dijanjikan oleh Yahweh, negeri Kanaan yang “banyak susu dan madunya” untuk menunjukkan kesuburan tanah Kanaan. Tetapi bakso? Saya tidak yakin itu bermakna “subur”]

Didalam kepala saya sendiri, saya menggambarkan adegan itu dalam versi lain. Begini ceritanya:
Ibu Mega, mendengar pertanyaan itu terlihat kaget dan berpikir sebentar. Lalu dia berkata:
“Wah, ini pertanyaan bagus sekali. Bagaimana menurut anda sendiri? Apakah menurut anda Indonesia merupakan negara yang tidak aman, tidak damai, dan tidak menyenangkan untuk ditinggali sampai tua?”

Orang itu terdiam. Dia tidak siap ditanya balik oleh anak salah satu founding fathers Indonesia.

Lalu Ibu Mega menjawab lagi:
“Saya sendiri kehabisan kata-kata untuk menjelaskan mengapa Indonesia dapat menjadi alasan bagi kita untuk tinggal sampai tua nanti. Tapi menurut saya, seperti kata-kata sebuah lagu;

disana tempat lahir beta
dibuai, dibesarkan bunda
tempat berlindung dihari tua
sampai akhir menutup mata

Indonesia adalah tempat saya lahir. Inilah tempat yang melalui proses sejarah, dinamika sosial politik, relasi antar negara, konstruksi media, serta perasaan kesamaan antar orang-orang dari Merauke sampai Sabang, dari Miangas sampai Rote, yang bersama-sama menyebut diri mereka ‘orang Indonesia’. Kenapa saya memutuskan tinggal di Indonesia sampai mati? Karena saya sayang negara ini, melebihi kemampuan saya menjelaskannya.”

[Saya mungkin perlu berhenti berimajinasi]