Category Archives: About people and perceptions

Alay

Alay is a term in Bahasa Indonesia, referring to teenage and young adult from lower class in the society. The term itself, is an abbreviation from “anak layangan” or ‘the children of kites”. Its because they often play kites. And kites, in the urban areas of Indonesia, is a sign of misfortunes. Those who play kites is never a rich kid. Rich kids play remote controls, get busy in social networking, chatting, watching movies, and such things. Only poor kids play kites.

So,  yes, “alay” is an offensive word. And yes, people from the higher class in society in Jakarta often use it.

An “alay” often recognized by their hairstyle, their choices in clothing, or by the way they write text messages. The thing is, its clear that whoever stands in top class or higher class in a certain society, would attack, by any kind of way, those who are in the lower class of society.

Sadly, I must say, its human.

Interconnected


“One morning, a farmer knocked loudly on the door of a monastery. When Brother Porter
opened the door, the farmer held out to him a magnificent bunch of grapes.“

‘Dear Brother Porter, these are the finest grapes from my vineyard. Please accept them
as a gift from me.’

” ‘Why, thank you! I’ll take them straight to the Abbot, who will be thrilled with such a
gift.’ “

‘No, no. I brought them for you.’
“ ‘For me? But I don’t deserve such a beautiful gift from nature.’“

‘Whenever I knocked on the door, you opened it. When the harvest had been ruined by
drought, you gave me a piece of bread and a glass of wine every day. I want this bunch of
grapes to bring you a little of the sun’s love, the rain’s beauty, and God’s miraculous
power.’

“Brother Porter put the grapes down where he could see them and spent the whole
morning admiring them: they really were lovely. Because of this, he decided to give the
present to the Abbot, whose words of wisdom had always been such a boon to him.

“The Abbot was very pleased with the grapes, but then he remembered that one of the
other monks was ill and thought: ‘I’ll give him the grapes. Who knows, they might bring
a little joy into his life.’

“But the grapes did not remain for very long in the room of the ailing monk, for he in turn
thought: ‘Brother Cook has taken such good care of me, giving me only the very best
food to eat. I’m sure these grapes will bring him great happiness.’ And when Brother
Cook brought him his lunch, the monk gave him the grapes.“

‘These are for you. You are in close touch with the gifts nature gives us and will know
what to do with this, God’s produce.’

“Brother Cook was amazed at the beauty of the grapes and drew his assistant’s attention
to their perfection. They were so perfect that no one could possibly appreciate them more
than Brother Sacristan, who had charge of the Holy Sacrament, and whom many in the
monastery considered to be a truly saintly man.

“Brother Sacristan, in turn, gave the grapes to the youngest of the novices in order to help
him understand that God’s work is to be found in the smallest details of the Creation.
When the novice received them, his heart was filled with the Glory of God, because he
had never before seen such a beautiful bunch of grapes. At the same time, he remembered
the day he had arrived at the monastery and the person who had opened the door to him;
that gesture of opening the door had allowed him to be there now in that community of
people who knew the value of miracles.

“Shortly before dark, he took the bunch of grapes to Brother Porter.

“‘Eat and enjoy. You spend most of your time here all alone, and these grapes will do
you good.’

“Brother Porter understood then that the gift really was intended for him; he savored
every grape and went to sleep a happy man. In this way, the circle was closed; the circle
of happiness and joy which always wraps around those who are in contact with the
energy of love.”

from “The Zahir” by Paulo Coelho

Sometimes we forget that life is not a series of independent moments, acts and thoughts. Life is a series of interconnecting moments, acts and thoughts. Every single thing that we do and we think is an effect, and at the same time, the cause of something.

And the question is:

what kind of acts and thoughts will you create? What influence will you give? What role will you take in the history of yours?

Hukuman

…funny, last night i was thinking, what is punishment. Being in jail isn’t punishment, if you dont like the life outside. Neither is death, if life is painful to live. I’ll tell you what is punishment to me..

“What?”

…Is hoping that there’s someone for you. And after years of no one, you find him, and still you can’t find him…

Itu adalah percakapan dua orang, Truman Capote dan Perry dalam sebuah adegan di film Infamous. Capote adalah penulis dari Breakfast at Tiffany’s dan In Cold Blood. Dalam film ini, ia diceritakan sedang dalam proses menulis bukunya yang fenomenal itu, In Cold Blood. Lawan bicaranya, Perry, adalah narapidana yang baru saja mendapat hukuman mati. Ia terbukti membunuh empat keluarga yang terkenal baik, disebuah kota yang semula sangat damai.

Dalam dialog itu, sebuah kata-kata yang sangat berkesan, diucapkan Perry kepada Capote:

Penjara, bukan hukuman, apalagi ketika kehidupan bebas diluar penjara ternyata menyakitkan. Juga hukuman mati, apabila hidup ternyata lebih menyakitkan.

Dia kemudian melanjutkan…

Hukuman bagiku adalah, mengetahui bahwa ada orang yang peduli kepadaku, dan tepat pada saat itu, aku tidak dapat bersamanya [karena dihukum mati]”

Perry, sejak kecil memang tidak pernah mendapat kasih sayang orangtua. Ibunya meninggalkan dia, lalu mati bunuh diri. Ayahnya juga membuang dia, dan menghina semua hal tentang dia.

Ketika bertemu dengan Capote, itulah pertama kalinya ia bisa melihat “simpati”, dan bahkan “empati”. Capote memang benar-benar mencoba melihat sisi lain dari Perry. Ia, adalah satu-satunya pembunuh, yang ia tahu, bersikap sangat baik sebelum membunuh korbannya.

Perry, sebelum menggorok leher korbannya, meletakkan bantal di kepala korbannya. Juga memakaikan selimut. Mirip seperti Yudas kepada Yesus, yang mencium pipiNya, sambil menyerahkanNya kepada orang-orang yang akan menyalibkanNya.

Dan saat Perry bertemu dengan satu-satunya orang yang bisa melihat sisi lain dirinya itulah, ia harus mati. Itulah hukuman untuk Perry.

Apakah hukuman bagimu?

Dipenjara? Dikurung dalam kamar? Menjadi miskin? Menjadi musuh publik?

Bagiku, hukuman adalah mengetahui apa yang aku lakukan tidak berarti untuk orang lain, khususnya orang-orang terdekatku. Hukuman, adalah tidak mempunyai siapa-siapa untuk diajak bicara, tepat seperti yang sering dialami semua anak tunggal. Untuk mengetahui bahwa banyak hal dalam hidup berada diluar kendali kita. Untuk menjadi kesepian, saat kita tidak ingin kesepian, dan menjadi sosial, disaat kita tidak ingin menjadi sosial.

Aku tidak ingin dihukum.

Dua Pengendara Motor Yang Mengobrol

Pernah lihat dua pengendara motor di jalan raya saling berdekatan dan mengobrol? Atau bahkan pernah merasakan mengendarai motor sambil ngobrol dengan teman?

Biarpun saya salah satu pembenci utama perilaku kampungan ini, tapi saya pernah.

Dan ternyata, rasanya jauh lebih heboh daripada ngobrol di tempat yang “normal”. Dibela-belain pakai menyamakan kecepatan, sering-sering nengok ke depan, sama buka kaca helm. Enggak perduli pengendara lain dari belakang mungkin jadi kesal gara-gara tingkah norak ini. Bahkan jika kamu tipe orang yang datar-dan-membosankan seperti sayapun pasti akan menikmati ngobrol dengan cara ini.

Kadang, saat sedang sendiri di jalan raya, saya suka berpikir: “kenapa ya ngobrol kayak gitu kok enak banget”? Biarpun norak, tidak pada tempatnya, dan cenderung membahayakan, kebanyakan pengendara motor pasti akan tidak menolak jika ada kesempatan ini.

Sempat terlintas, mungkin itu karena kesendirian. Ditengah-tengah jalan raya, semua orang menjadi anonim. (Hampir) semua pakai helm dan jaket. Kita jadi sekedar angka. Hanya salah satu diantara jutaan pengendara motor lainnya. Identitas kita hanya satu: pengendara. Kita tidak dikenali orang lain, jika tidak super-apes. Jadi, kesendirian dan anonimitas ini jugalah yang mendorong kita untuk berani bersikap seenak jidat: tabrak lari, menerobos lampu merah, salip sana-sini, dan jutaan perilaku egois nan membahayakan lainnya. Toh tidak ada yang tahu kalau kita habis tabrak lari. Toh tidak ada citra yang dipertaruhkan. Tidak ada nama baik yang akan berkurang kadar kemurniannya. Semuanya larut dalam dunia anonim.

Dan ditengah-tengah dunia yang anonim itu, tiba2 ada teman-entah dekat atau biasa saja, yang mengajak ngobrol… Yah, bisa dimengerti kenapa orang-orang suka sekali mengobrol di jalan raya. Oasis ditengah gurun? Mungkin.

Hal yang sama, mungkin, juga berlaku untuk semua kesendirian. Siapa yang bisa menolak secangkir air es ditengah gurun? Siapa yang bisa menolak perhatian saat kita tidak punya apapun?

….

Ditengah dunia yang mengkotak-kotakkan kita dengan identitas “demografi”, “psikografi”, A, B+, B, dan sebagainya, perlu kita jaga baik-baik orang yang memperlakukan kita dengan kebutaan terhadap ukuran-ukuran ini.

Tentang Saudara

ku akan menjagamu

di bangun dan tidurmu

di semua mimpi dan nyatamu

ku akan menjagamu

tuk hidup dan matiku

tak ingin… tak ingin kau rapuh…

Nyanyian dua pengamen berusia SD itu jauh dari bagus. Biasanya pengamen bersuara bagus, tetapi tidak kali ini. Satu fals, dan satu lagi sumbang. Demikianlah kaka beradik itu cocok satu sama lain.

Suara mereka sesekali tertelan bunyi gitarnya sendiri yang kadang berbunyi seperti nyanyian tokoh “Giant” dalam Doraemon. Belum lagi bisingnya bus metromini ibukota.

Namun, dengan kesederhanaan seperti itulah, ingatanku terbawa kepada seseorang. Namanya Indra. Dia sahabat terdekat, sekaligus saudara sepupuku. Dia sekarang berusia SMA. Kami dulu seperti Mario dan Luigi dalam Mario Bros: berpetualang bersama dalam dunia imajinasi kami yang tiada henti berubah, memperbarui dan memperkaya kami dengan penaklukan-penaklukan. Ya, penaklukan di dalam kertas-kertas gambar yang suka kami habiskan berlembar-lembar, penaklukan di layar video games, dan penaklukan di lapangan sepakbola.

Suatu hari kami bahkan kesetrum bersama. Begitu kuatnya daya listrik itu, sehingga kami terpental. Aku merangkak-rangkak dengan sisa tenaga, untuk mencari pertologan, sementara dia sudah tergeletak lemas. Untunglah setelah itu semuanya baik-baik saja.

Tapi itu semua masa lalu.

Sekarang, dia kerepotan menangani derasnya pengaruh buruk pergaulan di ibukota. Dan semuanya tampak tidak pernah sama lagi. Bolos sekolah, dikeluarkan, pergi dari rumah, hingga sempat dipenjara. Masa remaja memang sulit diduga.

Kabar terakhir, ia memutuskan mengambil Paket C dengan biaya sendiri. Sekarang ia bekerja sebagai pembuat tenda. Seadainya kamu tahu betapa kabar ini menjadi kejutan luar biasa bagi ibunya, yang sempat menunggui dia dipenjara, dan mengetahui apa saja perlakuan buruk polisi terhadap para napi, dan semua kebusukan-kebusukan lainnya disana.

Nanti, aku mau main lagi bersamanya. Pasti. Seperti nyanyian dua pengamen diatas.

Dan nyanyia itupun selesai sudah. Kedua pengamen berusia SD tersebut turun dari bis setelah menyebarkan kantong untuk menampung uang.

“Jangan lompat, awas jatoh” Si kondektur berteriak lantang kepada yang kecil.

“Ah biarin bang, jatoh kebawah ini” Si kecil berteriak.

Dan keduanya melompat dari bis, mencari bis lain untuk dilompati lagi setelahnya, sambil ditemani gitar bersuara Giant “Doraemon”.

Tentang Mereka

Its just wind, it blows everywhere…

– Dave Spitzer, karakter utama film “Weather Man”

Dave Spitzer adalah seorang pembawa acara ramalan cuaca di sebuah stasiun TV di kotanya. Ia bergaji ratusan ribu dollar per tahun, plus dikenal semua orang di kota itu. Tapi, Dave merasa pekerjaan itu sebuah kebohongan besar. Tak ada yang tahu, bahwa peramal cuaca hanyalah boneka cuap-cuap didepan kamera yang menunjuk-nunjuk ke layar biru dengan akurasi letak tangan. Itu saja. Bukan akurasi prediksi cuaca. Karena bagaimanapun, seperti yang dikatakannya, dan pada akhirnya menjadi kutipan terkenal dari film medioker ini: “Its just wind, it blows everywhere“.

Semua profesional pasti mengetahui kebohongan besar yang terkait di bidangnya. Akbar Tanjung, dalam sebuah wawancara di harian nasional mengatakan: “dalam politik, tidak ada sahabat, yang ada hanyalah kepentingan“. Semakin seseorang mengenal bidangnya, semakin ia melihat dengan jelas semua kelemahan-kelemahan yang ada di bidangnya. Seorang pekerja humas, sesungguhnya adalah pembohong. Ingat, semboyan suci mereka adalah “tell the truth, but not the whole truth“. Dan siapakah yang menjadi sahabat sejati para pekerja humas? Pastilah bukan para jurnalis, karena mereka adalah budak-budak yang akan menarik mereka menuju anak tangga karir berikutnya.

Semua profesi, mempunyai boroknya masing-masing. Tepat seperti Dave “Weather Man” Spitzer. Bahkan badutpun lebih jujur daripada pembawa acara ramalan cuaca. Setidaknya badut tidak terlihat-pintar-padahal-tidak-tahu-apa-apa.

Tapi, mungkin demikianlah seharusnya. Seseorang yang semakin jelas melihat borok pada bidang yang ditekuninya, berarti sudah melihat realita. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan realita adalah sehat. Apalagi bagi seorang jurnalis.

Kamu tidak akan merasakan bahwa kamu semakin hebat. Tidak ada yang berubah. Tulisanmu mungkin tidak akan mengguncangkan rezim, menumbangkan diktator, menggali kebenaran yang tersembunyi. Kamu mungkin tidak akan membongkar kasus kejahatan lingkungan terkenal, tidak menemukan barang bukti menuju sebuah kasus korupsi terbesar dalam sejarah, atau menyeret seorang anggota dewan karena sebuah skandal tersembunyi.

Tetapi, semua akan terjadi begitu saja. Satu per satu orang datang dan memuji tulisanmu. Orang akan datang dan pergi, dan kamu akan tahu siapa yang patut dipercaya, dan siapa yang tidak.

Pemerintahan tidak akan pernah benar, begitupun pejabat. Begitupun sarana transportasi. Begitupun harga-harga barang. Begitupun koneksi internet.

Tetapi, hak istimewa bagi seorang pewarta kebenaran adalah sudut pandang yang jernih, dan banyak. Dan itu berarti pilihan. Pilihan terhadap kata-kata. Pilihan terhadap sudut pandang penulisan. Pilihan terhadap ide-ide apa yang akan disampaikan. Itulah hak istimewa seorang jurnalis. Dia dapat memilih apapun untuk dikatakan. Tidak ada yang rahasia bagi jurnalis. Itulah yang diberikan iblis bernama “ketidakadilan”… kepada para jurnalis. Persis seperti yang dikatakan seorang sahabat: ketidaktahuan adalah anugerah.

Indonesia

by Reney Lendy Mosal

.

.

I see Indonesia

in a pair of praying hands of a boy. He pray, naively, for this country : for the poor, homeless, and disadvantaged people all around Indonesia.

For being a high school student doesn’t stop him to care about others.

.

.

I see Indonesia

in a smile of a someone who gave Rp. 5000 to an old man who came from nowhere, trying to get a little money to get back to his house.

For putting off every stereotype of a stranger, and decided to help him.

.

.

I see Indonesia

in a photograph about disadvantaged people made by one of my lecturer. He post it in his blog.

For caring to minority group when he himself can be categorized as elite-majority group.

.

.

I see Indonesia

in a bright young man who planned to be a teacher.

For choosing to care, while he has every choice in his hands.

.

.

I see Indonesia

in a smile of a mother whose her son got imprisoned because of drug abuse

For the strength to face the problem, while others leave her.

.

.

I see Indonesia

in my mother’s eyes

For raising a son, with help from no one.

And for nothing that can make her bitter. Not storm. Not riot. Not disappointment.

.

.

Thats what Indonesia means to me.

For every 1000 things to hate, there 1001 things to love about this land.