Category Archives: Karir

Spesifik!

Saya menemukan artikel menarik tentang bagaimana membuat to-do list yang lebih efektif. Silakan klik di gambar ini untuk lihat artikel itu.

Intinya sederhana: spefisik.

Usaha Rumit Untuk Menjadi Sederhana

“Any fool can make things complicated, but it requires a genius to make things simple.”

Saya sangat terinspirasi dengan tulisan ini > klik disini

Tulisan itu sebenarnya sedikit sok-tahu, karena dia bilang “Why Elegant Simplicity is the Most Important Idea You’ve Never Heard Of“, sedangkan jelas-jelas orang Jepang sudah kenal prinsip Wabi-Sabi sejak ratusan tahun lalu. Orang ini idealis dan pintar, tapi kurang banyak membaca dan ceroboh.

Bagaimanapun, tulisan ini membuat saya banyak berpikir tentang pilihan-pilihan saya. Saya selalu punya kecenderungan untuk membuat segala sesuatunya lebih rumit. Beberapa bulan lalu, saya menjejal-jejalkan banyak kegiatan sekaligus dalam jadwal. Itu termasuk pekerjaan yang lebih dari satu, kursus bahasa dua kali seminggu, fitness, bertemu teman paling tidak dua kali seminggu dan satu atau dua acara lain. Itu membuat waktu saya sepertinya sangat terbatas. Jadi orang sibuk memang menyenangkan.

Tapi siapapun pasti tahu, kalau sibuk itu tidak identik dengan produktivitas.

Saya kemudian sakit. Lalu saya banyak berpikir. Lalu saya membaca artikel tadi. Dan saya jadi lebih banyak berpikir. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat segala sesuatunya lebih sederhana. Saya akan fokus ke hal-hal yang prioritas. Kursus bahasa berhenti dulu. Saya akan fokus di pekerjaan dan fitness aja. Sambil juga mengurangi frekuensi keluar rumah. Pertemuan-pertemuan tidak penting akan saya kurangi dulu.

Ini saja akan membuat saya menghemat banyak waktu, yang akhirnya bisa dipakai untuk hal lain yang lebih esensial: membaca buku, atau memikirkan hal-hal baru dalam menyelesaikan pekerjaan saya. Sementara itu, saya akan tetap belajar bahasa, tapi pakai cara-cara lain. Dengan memotong-motong kegiatan, saya bisa hemat waktu, uang dan tenaga.

Ah, menarik.

Simplicity requires less ego and more imagination, less complication and more creativity, less glamor and more gratitude, less attention to appearance and more attention to essence.

Lifestyle Design: Alat, Bukan Tujuan

Melalui beberapa pilihan, saya bisa punya pilihan lebih banyak dalam hal gaya hidup. Saya juga menjadi relevan dengan terminologi “lifestyle design“. Lifestyle design adalah

Lifestyle Design is the design of one’s ideal lifestyle, especially an unconventional one, providing good opportunities for personal growth, leisure and adventure. Detailed methods include: career planning, entrepreneurship and travel.[1]

The term Lifestyle Design (LD) was coined and popularized by Timothy Ferriss in his book The 4-Hour Workweek. Ferriss claims that “People don’t want to be millionaires—they want to experience what they believe only millions can buy.”[2]

The New Rich (NR) are a subculture of people who abandon the “deferred-life plan” and create ideal lifestyles in the present using the currencies of Lifestyle Design: time and mobility. The New Rich focus on 1) Definition of desired lifestyle, 2) Elimination of the irrelevant and unimportant, 3) Automation of cash flow, and 4) Liberation from any single location. (wikipedia)

Saya mulai mengetahui tentang lifestyle design dari buku Tim Ferris, The Four Hour Workweek. Dalam buku ini, dibahas tentang bagaimana berbagai perubahan sosial saat ini memungkinkan orang mempunyai pilihan lebih banyak dalam mensinkronisasi gaya hidup, karier dan kesenangan pribadi. Ide ini menjadi bisa diterapkan saat saya mendapat pekerjaan yang bisa diselesaikan di rumah.

Melalui terminologi lifestyle design, saya jadi sadar bahwa saya bisa berpetualang ke banyak tempat: galeri, toko buku, acara-acara menarik, komunitas-komunitas menarik, dan sebagainya sambil disaat yang sama, tetap menyelesaikan pekerjaan. Bahkan menambah dengan beberapa kesibukan lain. Dengan pekerjaan yang bisa diselesaikan di rumah, saya bisa berhemat. Juga, dengan gaji standar pekerja di profesi saya, membuat saya bisa membeli banyak hal yang selalu saya inginkan. Saya juga bisa membeli baju, memilih tempat-tempat makan yang saya inginkan, apa yang mau dimakan, bersama siapa, dan kapan saya mau makan.

Tapi setelah beberapa bulan menjalani ini, saya melihat bahwa gaya hidup seperti ini hanya pantas dijadikan sebagai sebuah alat, bukan tujuan. Gaya hidup adalah sebuah alat untuk mencapai apa yang selalu kita inginkan. Gaya hidup (seharusnya) bukan sebuah tujuan. Melalui desain gaya hidup, kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa bertemu dengan orang-orang yang ingin kita dekati, dan dengan demikian, mencapai tujuan akhir kita.

Tujuan akhir adalah bagaimana kita bisa memberi nilai tambah bagi orang lain. Terutama bagi orang-orang terdekat kita. Lalu kemudian, seiring dengan waktu, kita akan mampu memberi nilai tambah buat orang-orang yang membutuhkan: mereka yang ada di urutan bawah dari “rantai makanan” kelas sosial.

Ini adalah alasan, yang membuat kita nanti ketika kita sudah mencapai banyak hal dalam hidup; kita tidak akan lagi bertanya-tanya:

“Setelah ini, lalu apa?”

Social entrepreneurship!

Beberapa tahun terakhir ini saya mulai tertarik sekali dengan social entrepreneurship. Berikut ini adalah arti dari social entrepreneurship:

Social entrepreneurship is the work of a social entrepreneur. A social entrepreneur is someone who recognizes a social problem and uses entrepreneurial principles to organize, create, and manage a venture to make social change. Whereas a business entrepreneur typically measures performance in profit and return, a social entrepreneur focuses on creating social capital. Thus, the main aim of social entrepreneurship is to further social and environmental goals. However, whilst social entrepreneurs are most commonly associated with the voluntary and not-for-profit sectors, this need not necessarily be incompatible with making a profit. (Wikipedia)

Saya ingin bagaimana caranya, suatu hari nanti, saya bisa berperan dalam proses perubahan sosial, tetapi disaat yang sama masih bisa memperoleh profit. Yah, semua orang punya idealisme-nya masing-masing. Bagi saya, dua kata ini (‘social‘ dan ‘entrepreneurship‘) seolah benar-benar mewakili apa yang ingin saya lakukan.

Melalui berbagai proses trial and error (yang hampir semuanya adalah sebuah error), saya banyak belajar tentang apapun yang harus saya tahu untuk menjadi social entrepreneur. Masih sangat jauh sih untuk menjadi punya kapasitas yang cukup besar untuk melakukan apa yang saya inginkan. Masih sangat jauh. Tapi beberapa langkah awal yang selama ini sudah diambil, bisa dibilang, cukup konsisten mengarah kesana.

Dan posting ini, hanyalah sebuah pemberhentian sejenak dari petualangan dari satu pintu ke pintu lain, dari satu pilihan ke pilihan lain, dari topik-topik yang dulu saya dalami, menuju topik-topik lain yang saat ini saya ikuti juga.

Begitulah.

Ini saatnya untuk balik ke jalur lagi dan kembali lagi ke pencarian itu.

Bliss, Genre dan Niche

Saya percaya seseorang menjadi maksimal dengan melakukan apa yang dia suka secara terus-menerus sehingga menjadi ahli, dan dengan demikian bisa menghasilkan nilai tambah bagi orang lain. Ini dijelaskan juga dalam sebuah forum beberapa tahun lalu yang saya ikuti. Tapi saya lupa siapa pembicaranya. Dia bilang, agar menjadi ahli, anda hanya perlu mengejar bliss (bliss: a state of extreme happiness) anda. Bliss itu diterjemahkan dalam gambar ini:

Bliss itu bisa diartikan sebagai apapun yang anda suka secara alami dan disaat yang sama, anda jago melakukannya. Bagi saya sendiri, bliss itu berarti topik-topik buku yang saya cari saat saya ke toko buku, atau situs-situs yang saya browsing… atau ide-ide yang tiba-tiba keluar dari kepala saya. Disaat yang sama, hal-hal itu harus juga sesuatu yang saya bisa melakukannya dengan bagus.

Saya berpikir, setelah menemukan bliss, kita perlu menemukan genre. Saya pakai kata “genre” untuk menjelaskan bahwa kategori-kategori yang diatur dalam genre itu tidak baku dan ditentukan oleh konvensi. Apakah genre anda?

Apakah anda praktisi atau akademisi? Profit atau nonprofit? Jika praktisi, bidang apa? Menemukan genre merupakan batu loncatan untuk mengembangkan dunia kita seluas-luasnya. Itu bisa membantu memilih prioritas acara-acara apa yang anda akan datangi, buku-buku apa yang anda akan baca, dan sebagainya. Genre juga membantu kita untuk memilih hal-hal yang kita hebat didalamnya, dan hal-hal yang kita tidak mengerti samasekali. Semua orang perlu mempunyai banyak hal yang dia tidak tahu, agar menjadi hebat dalam hal-hal yang dia tahu.

Lalu berikutnya, setelah selama bertahun-tahun membangun genre, anda perlu menemukan niche. Niche menurut Wikipedia adalah

is the subset of the market on which a specific product is focusing; therefore the market niche defines the specific product features aimed at satisfying specific market needs, as well as the price range, production quality and the demographics that is intended to impact.

Jika bagi dunia kita adalah produk dari keseluruhan bentukan orangtua+sosial kita, maka niche adalah sebuah pasar yang spesifik cocok untuk anda. Niche dalam kata-kata saya sendiri adalah sebuah ceruk di dalam dunia yang disediakan bagi anda. Niche bisa berarti pekerjaan yang sesuai dengan bliss dan genre anda. Bisa juga berarti sebuah komunitas yang cocok dengan anda, atau apapun yang disediakan dunia yang sesuai dengan minat anda.

Niche itu bukan berarti ‘menjual’ kemampuan anda. Tidak sesederhana itu. Niche adalah sebuah tempat dimana kemampuan anda diapresiasi dalam bentuk uang (gaji), THR, fasilitas, kesempatan dan teman-teman yang sejalan dengan minat anda.

Saya terpikir hal ini saat beberapa hari kemarin gagal menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan bliss dan genre saya. Saya lalu berpikir, mungkin perlu selalu mempertajam fokus agar terus bergerak di jalur yang sesuai, sehingga mudah dalam menentukan prioritas.

Anda juga pernah seperti itu? Pernah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk buku-buku yang tidak penting hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu? Atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk acara-acara yang tidak jelas apa manfaatnya di jangka panjang? Saya tahu rasanya. Itu seperti saat anda lapar setengah mati, tapi hanya ada air. Anda minum air banyak-banyak untuk mengisi perut anda… dan saat mulai kembung, anda tetap merasa lapar.

Tentang karier, cinta dan semua keanehannya

Tonight most people will be welcomed home by jumping dogs and squealing kids. Their spouses will ask about their day, and tonight they’ll sleep.

The stars will wheel forth from their daytime hiding places. And one of those lights, slightly brighter than the rest, will be my wingtip passing over.

Itu adalah kutipan dari film Up in The Air yang menggambarkan bagaimana hidup Ryan Bingham berbeda dari yang lain. Ryan, digambarkan sebagai seorang yang sangat sering bepergian dan menyukai hal itu. Ia suka kebebasan. Ia berencana tidak punya anak dan tidak ingin punya rumah.

Saya suka dengan karakter Ryan yang sangat solitary, independen dan nyaman dengan kesendirian. Saya juga mungkin tipe orang yang dibentuk untuk menjadi seperti itu. Saya lahir sebagai anak tunggal, dan kedua orangtua saya bekerja. Saya lalu mendapat pekerjaan yang bisa saya urus dari rumah.

Karena terbebas dengan masalah transportasi (yang menghabiskan uang, tenaga dan waktu), saya jadi punya banyak waktu luang untuk membaca, ikut beberapa kelas dan masih bisa mengobrol bersama teman-teman (asal pada malam harinya saya lembur).

Tapi tidak semuanya baik. Saya merasa kesepian. Efektif, tapi kesepian. Saya mencoba bertemu secara rutin dengan beberapa orang, tapi tampaknya, bagi orang-orang ini, pukul 9 pagi sampai 5 sore adalah waktu terbaik mereka. Sisanya adalah waktu mereka untuk memulihkan tenaga. Dan itu membuat obrolan dengan mereka menjadi sedikit ‘berbeda’.

Dalam hal hubungan-spesial, saya juga belum beruntung. Agak ironis memang, karena saya adalah kontributor artikel tips-tips hubungan romantis. Tapi saya sendiri menghadapi banyak masalah dalam hal cinta, seperti miskomunikasi, kesenjangan antara harapan dan kenyataan, ketidakpastian yang terlalu besar, dan sebagainya. Dalam hal hubungan cinta, sepertinya saya memang belum beruntung.

Tapi film Up In The Air memberikan saya ide untuk menata kembali cita-cita dan prioritas saya. Film ini tidak berakhir dengan Ryan Bingham menikah atau berubah. Film ini seperti hanya menjelaskan satu babak dalam hidup Ryan. Dan itu yang saya butuhkan.

Saya perlu yakin, bahwa semua misteri, ketidakpastian dan keanehan dalam hal hubungan cinta; serta semua isu tentang kesepian karena perbedaan pilihan hidup; hanyalah satu babak dalam hidup saya. Kadang, tidak perlu ada jawaban. Menyebalkan? Mungkin. Tapi beberapa hal perlu dihadapi dengan melebarkan hati, bukan dengan mendesak-desak mencari jawaban.

Cinta? Saya tidak tahu akan kemana arahnya.

Kesepian? Biar itu jadi urusan saya.

Kadang ada saatnya anda menikmati naik-turunnya roller coaster cinta, mengambil keputusan drastis, atau mengijinkan diri anda dikendalikan emosi/ perasaan/ insting. Tapi saat terlalu banyak ketidakpastian, saat harapan jadi too-good-to be-true, maka yang terbaik yang bisa dilakukan adalah menghela nafas, bicara dengan 1-2 teman terdekat, memainkan musik favorit, lalu kemudian memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini.

Saya mungkin akan kembali ke hal-hal favorit saya… membaca buku, mendengarkan lagu-lagu, berusaha menikmati oatmeal saya, dan mencari apapun yang menarik perhatian saya. Mendatangi acara-acara menarik, atau menikmati obrolan-obrolan menyenangkan dengan teman-teman Saya juga akan menikmati rasanya menata urusan seperti rencana studi, tabungan/keuangan, pakaian, travel, dan sebagainya.

Itu sudah cukup untuk membuat segalanya menyenangkan lagi.