Category Archives: Personal note

Luuuna Looooovegood

“Wit beyond measure is man’s greatest treasure.” -Luna Lovegood

 

Image: potterincantatem.wordpress.com.

Back to Ithaca

Being an entry level worker and a student at the same time teaches me to be humble. No matter how hard I’ve tried, there’s always someone who is luckier, achieve higher, or gets unexpected opportunities. No matter how hard I work and put my best effort at every aspects of life, whether in social life, education, or career, there’s always someone brighter, sharper, or, simply… better.

After graduation, you’ll see people growing up FAST. Your closest friend suddenly turns into a young fearless executive who could earn Rp 6-8 million/month in their second year of working. Some glow brighter and get a scholarship. Others win a competition(s). That kind of  things, you will see for the rest of your lives.

But something came to me when I stopped following the race of  “how-to-achieve-more-than-everyone-else“. At that very moment,  I’m entering a new state of mind. I became less worried about achievements. The road to achievements suddenly changes from a race track into a joyful journey, full of monsters and elfs and magic and princes and princesses and demigods and dragons and angels and unicorns and phoenixes and thousands of other mystical creatures living a world of imaginary cosmos. Lets just say, a garden of Eden of your own version. You’ll laugh, cry, reminisce, learn, discover. You’ll look at things differently, and you’ll notice that your heart bursts happiness even when you’re just dealing with boring daily routines.

You’ll learn that achievement is no longer the most important thing. Though its important and you work hard for it, (and you’ll achieve bigger and greater things), but you’ll see that there are millions of choices, ideas, and adventures to satisfy your lust of fulfillment.

Suddenly i remember this poem by Constantine Cavafy. Its about Odyssey’s way back to Ithaca. Here it is:  

Ithaca
When you set out on your journey to Ithaca,
pray that the road is long,
full of adventure, full of knowledge.
The Lestrygonians and the Cyclops,
the angry Poseidon — do not fear them: You will never find such as these on your path,
if your thoughts remain lofty,
if a fine
emotion touches your spirit and your body.

The Lestrygonians and the Cyclops,
the fierce Poseidon you will never encounter,
if you do not carry them within your soul,

if your soul does not set them up before you.


Pray that the road is long.
That the summer mornings are many,
when,
with such pleasure,
with such joy
you will enter ports seen for the first time;
stop at Phoenician markets,
and purchase fine merchandise, mother-of-pearl and coral, amber, and ebony, and sensual perfumes of all kinds,
as many sensual perfumes as you can;

visit many Egyptian cities,

to learn and learn from scholars.


Always keep Ithaca on your mind.
To arrive there is your ultimate goal.
But do not hurry the voyage at all.
It is better to let it last for many years;
and to anchor at the island when you are old,

rich with all you have gained on the way,

not expecting that Ithaca will offer you riches.

Ithaca has given you the beautiful voyage.
Without her you would have never set out on the road.

She has nothing more to give you.

And though you should find her wanting,
Ithaca will not surprise you;
for you will arrive wise and experienced,

having long since perceived
the unapparent sense in Ithaca.

Go, fly, be a star! As for me, I’ve decided to take another route in this long journey to the future. And that route leads to Ithaca.

View #1

Beyond right or wrong, there lies a place. Some people call that place Confusion. But i have my own name for that place.

Understanding.

Tentang berubah

“….maybe self improvement is not  the answer.. maybe self destruction is the answer” -Chuck Palahniuk

Saya dulu baca banyak buku-buku self help. Tapi lama kelamaan saya mulai berpikir bahwa itu palsu. Merubah diri sendiri, apalagi lewat kata-kata indah itu kadang cuma angan-angan gombal. Orang yang mau hasil dari perubahan tapi gak mau bayar harga itu entah bodoh sekali atau terlalu membohongi diri sendiri.

Saya percaya kalau perubahan itu sakit. Sakit banget. Sakitnya ada di banyak dimensi, sampai-sampai rasanya kayak tenggelam di air panas.

Saya bukan pakar, atau orang yang sudah berubah. Saya juga sedang berubah. Tapi kalau boleh sumbang saran, ini ada beberapa hal yang saya pikir bukan, dan samasekali tidak menuntun pada perubahan:

– Orang yang lagi menonton acara self help di TV, lalu merasa tergugah dengan inspirasi dari kata-kata indah yang ada disitu.

– Orang yang ada di gedung, lalu mendengarkan sesi tentang bagaimana berubah jadi lebih baik.

Perubahan itu samasekali tidak indah. Perubahan itu brutal. Berubah itu berarti pikiran dan hati kamu akan berdarah-darah. Ego-mu akan hancur lebur. Kamu akan menemukan bahwa kamu benar-benar salah. Kalau kamu belum bisa lihat bahwa kamu salah, berarti dalam bidang itu kamu sedang stagnan.

Perubahan itu, saya percaya, ada di tempat-tempat atau kondisi yang paling tidak nyaman buat kita. Membuat kita membongkar semua asumsi-asumsi sama tembok-tembok pembatas pikiran kita.

Dan setelah semuanya berantakan; setelah kita tidak punya apa-apa lagi, saat itu hal-hal baru akan keluar dari dirimu. Dan saat itu kamu pasti akan tahu, kalau kamu benar-benar sedang berubah.

Nb: Pilar pertama buat diancurin biar bisa berubah itu gampang banget ditemuin: ego.

Langit tertinggi kita adalah ubun-ubun kita

Beberapa orang pintar yang saya tahu, bicara tentang topik-topik susah dan berat. Mereka biasanya terobsesi dengan bidang-bidang yang menarik perhatian mereka. Mereka bicara hal-hal yang “tinggi” dan berat, dan kadang lupa bahwa ujung dari semua pencarian manusia adalah… manusia itu sendiri.

Tapi saya berbeda. Saya percaya bahwa langit tertinggi yang bisa anda capai, adalah ubun-ubun anda. Pencarian terdalam anda kedalam makna-makna yang tersembunyi, akan berhenti pada ujung terbawah telapak kaki anda.

Maksudnya?

Segala hal yang anda kejar, semua pengetahuan dan pengalaman anda, seharusnya berujung kepada membuat anda dan orang-orang di sekeliling anda jadi lebih baik. Semua buku yang anda baca, dan bidang-bidang yang membuat anda tenggelam didalamnya, seharusnya bermanfaat untuk anda dan orang-orang di sekeliling anda. Bukan demi kepuasan “mencapai sesuatu yang hebat” saja.

Orang lain mungkin mencapai kepuasan dari memamerkan petualangan intelektual mereka. Tapi saya bukan mereka. Saya ada di jalan berbeda.

Saya mungkin akan mendaki, berjalan, kadang berlari, lalu menyelam. Saya juga akan mengatur perbekalan, dan bersiap-siap untuk berjalan jauh. Saya akan terus begitu sampai kulit saya melepuh terbakar matahari. Atau terpaksa tersedak air laut. Atau digigit binatang-binatang. Tapi yang jelas, akhir dari perjalanan itu, adalah untuk jadi lebih bermanfaat bagi orang-orang. Entah itu orang yang saya temui di jalan. Atau saya sendiri. Atau orang-orang yang berjalan bersama-sama saya.

Beberapa orang terlahir jadi ambisius. Saya tidak. Saya perlu motivasi. Dan orang-orang terdekat saya, adalah motivasi saya. Dan kemudian sekarang saya tahu, bahwa ternyata, Steve Jobs juga berpikir demikian. Silakan klik di gambar ini untuk membuka artikel itu.

Religiusitas 2.0: Personal Branding vs Sumber Pencerahan

Ada masa-masa dimana religiusitas pribadi seseorang itu jadi sesuatu yang sangat seksi. Itu adalah masa-masa dimana kita menyimpan segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan manusia-Tuhan dalam batas-batas pribadi kita. Kita menyimpan rapat-rapat hubungan kita dengan Tuhan dalam buku harian, dalam kamar, dan jelas, hanya dalam hati. Hubungan kita dengan Tuhan jadi sesuatu yang hanya-kita-dan-Tuhan-yang-tahu.

Tapi itu dulu. Sekarang religiusitas masuk ke sosial media. Itu jadi trending topic, status Facebook, pembahasan di blog, dan sebagainya. Orang jadi sangat tertarik dengan membicarakan Tuhan di ranah publik. Bagi saya, itu tidak masalah. Tapi mungkin kita perlu memikirkan ulang seperti apa kita membicarakan Tuhan di ranah publik.

Dalam hal membicarakan Tuhan di media sosial, menurut saya ada 2 tipe orang: a) mereka yang menggunakan itu sebagai Personal Branding,  dan b) mereka yang menggunakan itu sebagai Sumber Pencerahan.

> Religiusitas sebagai personal branding: akan fokus ke menunjukkan bagaimana hubungannya dengan Tuhan.

> Religiusitas sebagai sumber pencerahan: akan fokus ke bagaimana religiusitas/spiritualitasnya itu bisa jadi nilai tambah buat orang lain. Nilai tambah itu bisa sebagai pencerahan/ nasehat/ dll.

*Contoh twit religiusitas sebagai personal branding: “i love you God

*Contoh twit religiusitas sebagai sumber pencerahan: “Tuhan membantu orang-orang yang membantu dirinya sendiri“.

Perlu diingat kalo misalnya bagaimana kita menampilkan religiusitas itu bisa berdampak ke bagaimana orang lain melihat/mempersepsikan anda dan ide (agama/kepercayaan/spiritualitas) yang anda bawa di kepala dan hati anda. Jika anda fokus ke menampilkan diri anda sendiri (a.k.a religiusitas sebagai personal branding), anda sedang menempatkan diri anda sendiri sebagai sumber teladan. Kalau suatu saat anda kedapatan berbuat salah seperti layaknya manusia biasa, maka anda langsung jadi batu sandungan buat orang lain.

Sebaliknya, jika anda menempatkan religiusitas sebagai sumber pencerahan (di media sosial), maka anda sedang menempatkan diri anda sendiri sebagai manusia biasa yang sedang dalam perjalanan menuju The Objective Truth itu. Dan jika anda suatu saat berbuat salah, itu akan jadi sangat manusiawi.

Kali ini saya melihat dalam kacamata hitam-putih. Menurut saya, dalam menggunakan media sosial, kita perlu menempatkan religiusitas sebagai sumber pencerahan, bukan sebagai personal branding. Dan biarkan hubungan kita dengan Tuhan menjadi rahasia kita sendiri. Dengan begitu, kita menjadi seksi lagi.

Social entrepreneurship!

Beberapa tahun terakhir ini saya mulai tertarik sekali dengan social entrepreneurship. Berikut ini adalah arti dari social entrepreneurship:

Social entrepreneurship is the work of a social entrepreneur. A social entrepreneur is someone who recognizes a social problem and uses entrepreneurial principles to organize, create, and manage a venture to make social change. Whereas a business entrepreneur typically measures performance in profit and return, a social entrepreneur focuses on creating social capital. Thus, the main aim of social entrepreneurship is to further social and environmental goals. However, whilst social entrepreneurs are most commonly associated with the voluntary and not-for-profit sectors, this need not necessarily be incompatible with making a profit. (Wikipedia)

Saya ingin bagaimana caranya, suatu hari nanti, saya bisa berperan dalam proses perubahan sosial, tetapi disaat yang sama masih bisa memperoleh profit. Yah, semua orang punya idealisme-nya masing-masing. Bagi saya, dua kata ini (‘social‘ dan ‘entrepreneurship‘) seolah benar-benar mewakili apa yang ingin saya lakukan.

Melalui berbagai proses trial and error (yang hampir semuanya adalah sebuah error), saya banyak belajar tentang apapun yang harus saya tahu untuk menjadi social entrepreneur. Masih sangat jauh sih untuk menjadi punya kapasitas yang cukup besar untuk melakukan apa yang saya inginkan. Masih sangat jauh. Tapi beberapa langkah awal yang selama ini sudah diambil, bisa dibilang, cukup konsisten mengarah kesana.

Dan posting ini, hanyalah sebuah pemberhentian sejenak dari petualangan dari satu pintu ke pintu lain, dari satu pilihan ke pilihan lain, dari topik-topik yang dulu saya dalami, menuju topik-topik lain yang saat ini saya ikuti juga.

Begitulah.

Ini saatnya untuk balik ke jalur lagi dan kembali lagi ke pencarian itu.