Category Archives: Personal note

Cukup, saya akan membelah diri

Semua orang punya dua sisi, termasuk saya. Ada sebagian diri saya yang suka dengan hal-hal serius dan penting, tapi ada juga yang suka dengan hal-hal bodoh yang samasekali tidak penting.

Kali ini, saya menyerah. Saya tidak tahan untuk bermutasi. Saya membelah diri saya menjadi dua blog.

Di blog ini, reney.wordpress.com, saya akan menulis semua hal-hal yang sifatnya penting dan untuk publik. Semua tulisan-tulisan yang berguna dan ada ide yang cukup runut, akan masuk ke sini. Ini adalah blog nonfiksi, untuk sisi otak saya yang nonfiksi.

Sementara itu, di blog yang satu lagi, yaitu reneymosal.tumblr.com, saya akan menulis semua hal-hal yang fiktif, fiksi, khayalan, privat, dan apapunlah itu. Itu isinya kurang penting, tapi sangat menarik untuk saya.

Begitulah. Sampai bertemu dengan diri saya yang lain.

Not good enough for love?

Merasa cukup baik untuk orang yang kamu sayangi?

Saya baru saja berdiskusi dengan teman lama tentang kecenderungan bahwa kadang, kita tidak bisa cukup baik untuk orang yang kita sayangi. Mungkin awalnya, iya. Tapi kemudian, karena kita tidak bertambah hebat secara terus menerus dalam kecepatan yang luar biasa, dan karena keinginan tak terbatas dari manusia untuk selalu mendapat lebih, kita sadar bahwa kita kadang tidak cukup baik untuk orang itu.

Kadang, pilihan paling baik adalah berhenti menyenangkan orang lain, biarpun itu orang yang kita sayangi. Seperti kutipan ini:

“I quit, I give up, nothing’s good enough for anybody else, it seems…When I’m all alone it’s the best way to be. When I’m by myself nobody else can say goodbye. Everything is temporary anyway.”

Lebih baik berhenti mengagumi seseorang, mengeluarkannya dari kepala, menghapusnya dari ingatan, melupakan nomornya, berhenti menyapa di YM, tidak lagi melihat-lihat halaman Profile Facebook-nya, tidak lagi membicarakannya dengan teman, berhenti mengira-ngira dia sedang melakukan apa, stop mendaftar tempat-tempat menyenangkan untuk bertemu, dan membuang semua hal yang berhubungan dengan orang itu. Lebih baik melakukan semua itu, daripada terus-menerus dirubah untuk selalu menjadi lebih baik, demi memuaskan apa yang sebenarnya tidak bisa puas.

Itulah kenapa, kadang, beberapa orang, termasuk saya, lebih suka tenggelam dalam kesibukan sendiri. Itu untuk terus-menerus berlari mengejar bayangan kesempurnaan tentang diri sendiri, agar mungkin suatu saat, entah kapan, bagaimanapun caranya, saya bisa cukup baik untuk bersama seseorang.

Mengejar Mimpi

Mengejar mimpi itu berarti memainkan pertandinganmu sendiri. Jalan di jalurmu sendiri. Melihat dengan caramu sendiri. Mengambil kendali atas hidupmu sendiri.

Mengejar mimpi itu akan membuatmu merasa kesepian, karena tidak semua orang akan selalu ada di jalur yang sama denganmu. Kamu akan keluar dari kerumunan. Kamu akan terpisah dari yang lainnya.

Kamu akan makan malam bersama teman-teman terdekatmu, memesan menu favoritmu, membicarakan hal-hal yang sedang terjadi, gadget apa yang sedang tren, tentang apa yang dilakukan orang2 terdekatmu, tapi kamu akan tahu, bahwa itu semua hanya sementara.

Kita akan tertawa, makan sampai kekenyangan, jalan sampai kepayahan, tapi tidak selamanya. Kita akan berlari masing-masing. Membawa beban kita masing-masing. Diuji dengan ukuran-ukuran kita masing-masing. Itu karena masing-masing dari kita, sebelum lahir, diberi label tentang apa yang akan kita lakukan… tentang peran-peran unik yang tidak bisa diganti oleh orang lain.

Bermimpi, apalagi mengejar mimpi, adalah berarti berani menanggung kesepian. Terlalu kesepian, sampai-sampai hanya Tuhan yang bisa menemanimu. Dan hal yang bisa kamu lakukan adalah berharap, bahwa suatu saat, Pencipta Ruang dan Waktu bisa menundukkan ruang dan waktu, dan membuat mimpi-mimpi yang kalian kejar, saling bersinggungan satu sama lain, untuk suatu tujuan yang jauh lebih besar dari apapun yang bisa kita pikirkan.

> untuk semua yang mengejar mimpi, dan dalam pengejarannya itu, berhadapan dengan Tuhan <

Nama Absurd Memang Lebih Baik

“Siapa namanya?”

“Reney, pak”

“Siapa? Ceney?”

“RRRReeeennnneyy, pak (!)”

“Oh.. Reni!”

Itu adalah percakapan wajar yang suka saya temui saat orang pertama kali memanggil nama saya. Saya selalu bermasalah dengan nama. Itulah kenapa saya suka memperhatikan nama-nama orang lain. Beberapa orang dilahirkan dengan nama yang ribet, seperti Adhizzeza Nandra. Well, bukannya apa yah, tapi nama macam apa yang punya 3 kata “Z” hanya dalam satu kata. Itu membuat lidah berdengung saat menyebut namanya.

Coba anda ucapkan “Reeennneyyyy”. Kalau anda mengucapkannya dengan benar, itu akan terasa lancar, seperti turun dari perosotan. Rrreeennneyyy!

Hal lain yang saya perhatikan soal nama adalah bahwa penjara dan tempat ibadah mempunya kesamaan: disana banyak orang-orang dengan nama religius. Dalam kunjungan saya ke penjara dan tempat ibadah, daftar nama napi dan daftar nama pengkotbah selalu membuat saya tersenyum. Dalam daftar nama napi, nama-nama seperti Thomas, Lukas, Yohanes (dan kadang-kadang juga Mohammad, Abdullah) dll itu banyak ditemui.Mereka rata-rata mencuri dan merampok. Ada beberapa yang pakai kekerasan.

Kecenderungan penggunaan nama religius itu persis seperti di tempat ibadah.

Well, ini sama sekali bukan tentang agamanya sih, tapi tentang orangnya. Dan tentang nama-nama mereka.

Saya jadi berpikir, mungkin kadang-kadang perlu juga menamakan seseorang dengan nama yang absurd seperti “Adhizzeza Nandra”, lengkap dengan 3 huruf “Z” untuk membuat lidahmu berdengung saat mengucapkannya. Setidaknya, nama absurd seperti itu tidak akan menjadi lucu kalau kamu sedang khilaf mencuri, misalnya.

Atau, kalau kamu tidak suka lidahmu berdengung-dengung, kamu bisa menamakan orang lain dengan nama absurd lain yang lebih bagus:

Reney.

Selamat Hari Kemerdekaan

Lihat!

Lagu ini berusaha menceritakan secara lengkap kekayaan Indonesia. Bukan tentang Manohara. Bukan tentang Cinta Laura. Bukan tentang the drama of daily life yang disajikan televisi, bukan pula tentang distorsi realita, dimana Indonesia hanya bermakna “teroris”, “bom”, “korupsi”, “masalah”, “pemilu” dan sebagainya.

Ini tentang kekayaan yang jarang diceritakan. Entah karena kita sulit menerimanya, atau apalah. Ini tentang dunia selain monitor, Facebook, dan televisi. Ini tentang realita diluar Twitter, Yahoo Messenger, sinetron, dan infotainment.

Ini tentang pulau kelapa-pulau kelapa di ujung Sulawesi. Tentang rumah-rumah gadang. Tentang batik, keris, dan gamelan. Ini tentang cerita rakyat yang beredar dari satu generasi ke generasi lain. Tentang pesan yang abadi tentang cerita-cerita rakyat, bukan hanya tulisan-tulisan sembari lalu seperti di blog kita. Tentang ribuan hal yang menjadi alasan kita menyukai negara ini.

Selamat hari kemerdekaan!

Perbaikan Gaya Berpakaian

Like father like son. Bukan begitu?

Tapi entah kenapa, saya merasa berbeda dengan papa saya. Papa saya fasih pakai Doc Martens,  jaket Valentino, dan kaus Zara Man.

Sedangkan saya sudah merasa nyaman dengan kaus yang beli di Carrefour, kemeja yang dibeli di Tanah Abang, sepatu sneakers yang itu-itu saja, dan celana panjang bermerek Carvil (bukannya itu merek sendal??).

Saya buruk dalam fashion.

Dan saya jelas perlu perbaikan. Jadi begini… saya kemarin baru menonton He’s Just Not That Into You, dan sepertinya itu memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya orang berusia duapuluh dan tigapuluhan berpakaian.

Jadi, kemungkinan begini cara saya berpakaian:
Atasan : kemeja lengan panjang. Warnanya putih, abu-abu, biru muda, atau marun. Menurut saya, kemeja warna hitam itu bisa berdampak pada kehancuran mood. Untuk kemeja, saya mungkin pakai Hammer atau Valino. Tapi ya jelas, gaji saya akan hanya bersisa untuk beli bensin kalau semua kemeja saya dari Hammer atau Valino. Jadi, dua pertiga kemeja saya akan dibeli di Tanah Abang atau Mangga Dua saja. Selain itu, bolehlah pakai Poshboy sesekali. Saya suka sekali Poshboy. Tetapi yang jelas, TIDAK baju-baju bermotif distro. Itu bukan saya. Kalau anda melihat saya memakai kaus bermotif distro, mungkin anda salah. Hehehe.

Bawahan: saya tidak akan pernah memakai celana bahan. Saya tidak suka celana bahan. Alternatifnya untuk tetap terlihat rapi, mungkin, jins hitam yang agak ‘cling’. Tau kan ‘cling’? Itu…. Jenis bahan jins yang cocok untuk acara formal malam hari. Warna yang cocok itu mungkin hitam atau biru muda. Abu-abu atau coklat juga sepertinya bagus.

Sepatu: Tergantung acaranya sih ya. Tapi kalau bukan sneakers, ya mungkin pantofel. Tapi saya ingin punya satu sepatu boot. Papa saya sih sembilan dari sepuluh sepatunya itu jenisnya boot.

Lalu, saya jelas tidak akan pakai jam. Saya kurang suka pakai jam. Kacamata? Bolehlah. Lagipula mata saya minus. Tapi pastinya, saya tidak akan pakai lensa kontak. Lensa kontak itu agak gayish.

Bagaimana? Apakah gaya seperti ini sudah bisa disebut sebagai sebuah perbaikan?

Menulis Mimpi

Mimpi itu seperti menulis. Kita tidak tahu pasti apa yang akan kita tulis. Kita mulai dengan satu kata. Lalu kata lainnya. Lalu satu kalimat. Lalu kalimat lainnya. Satu ide, bersambung dengan ide lainnya. Terus begitu sampai selesai. Mimpi itu seperti itu. Kita mengerjakan sesuatu. Kita hidup dengan rutinitas harian yang biasa.
Kita bangun, mandi, pergi ke tempat aktivitas, mengeluh tentang cuaca, membaca koran, membicarakan buku, film, atau kejadian-kejadian yang kadang tidak ada hubungannya dengan hidup kita. Kita jalan di rute yang biasa kita lalui. Lalu tiba-tiba kita terpeleset ke gorong-gorong!

Didalam gorong-gorong yang bau, sempit, pengap, gelap, dan ramai dengan suara tikus itu, kita melihat sebuah pintu. Dan setelah dibuka, ternyata pintu itu adalah sebuah kamar mandi. Dan kamar mandi itu adalah sebuah bagian dari ruang pesta. Sebuah pesta pernikahan yang hebat!

Begitulah menulis. Begitulah mimpi. Satu kejadian, mendorong kepada sebuah kesan. Sebuah kesan, membuat kita menginginkan yang lain. Kita lalu berharap dan bermimpi. Dan harapan, kadang harus berhenti saat kita tidak siap.

Tapi mungkin, seperti menulis, bermimpi juga sulit ditebak akhirannya. Sebuah paragraf yang sudah selesai, ternyata merupakan bagian pengantar dari sebuah bagian baru. Rangkaian kejadian yang membuat kita berharap dan bermimpi, dan kemudian kehilangan keduanya sekaligus, merupakan sebuah bagian. Tapi selalu ada bagian lain.

Dan bagian terbaiknya adalah, kita penulisnya, sekaligus pemimpinya. Kita yang memilih kata-katanya, menentukan sudut pandangnya, menggambarkan adegannya. Kita melakukan seleksi akan apa yang kita mau tulis dan apa yang tidak mau kita tulis. Tapi pada akhirnya, kita hanya bisa diam dan teringat lagi akan keterbatasan kita.

Ending yang berkesan, kata-kata kunci yang membuat kita tergelitik, alur penulisan yang dinamis, hanya bisa didapat saat kita terjun, turun kedalam ketidakterbatasan kemungkinan. Begitu juga mimpi. Bagian terbaik dari sebuah mimpi adalah keseimbangan sempurna dari harapan dan kemustahilan. Dari usaha, dan nasib. Dari kontrol, dan ketiadaan kontrol.
Mari, mari. Mari menulis mimpi. Mari berhenti sebentar dari berjuta-juta pola kegiatan harian kita dan beribu-ribu rencana yang sudah berjejal-jejal di kepala untuk menyadari bahwa besok dan seterusnya adalah sebuah negosiasi makna yang tidak pernah selesai antara “nasib” dan “pilihan”. Dan kalau kita bisa mengajukan penawaran yang tepat kepada “nasib”, mungkin ia akan berpihak pada kita: saya dan kamu.