Happiness #5

Tumblr saya sudah mulai tidak terurus. Saya berencana mau hapus. Sekarang, saya pindahin dulu satu-satu isinya. Ini salah satunya.

Happiness #5

Ini tentang seseorang yang punya kepala yang sangat berisik. Saat dia berjalan, selalu ada sesuatu yang melintas di kepalanya.

Kadang itu suatu warna-warna yang melintas tanpa tentu arah. Kadang itu deretan kata-kata yang ia pernah baca dulu. Kadang itu rencana tentang besok atau lusa, atau tiga tahun sebelumnya. Kadang itu mimpi-mimpi yang ia ingat pernah ia lihat. Kadang itu potongan gambar-gambar dari film. Kadang itu beberapa kata biasa yang sedang menarik perhatiannya.

Kepalanya selalu berisik. Tidak perduli dengan siapa ia berada, seseru apa pembicaraan dengan temannya, atau apa yang ia ketik sekarang, kepalanya tetap selalu berisik. Selalu ada sesuatu yang melintas disana. Selalu macet, penuh, riuh tanpa terkendali.

Dia mencoba mengabaikan itu. Kadang itu bisa diabaikan. Tapi kadang tidak bisa.

Tapi ada satu hari, satu tempat dan satu orang yang membuatnya bingung. Itu adalah pertama kalinya ia bertemu dengan orang ini. Dan itu juga pertama kalinya ia merasakan bahwa kepalanya berhenti menjadi kacau. Semua ide, semua rencana, semua pengalaman, semua gambar dan bentuk dan kata dan warna dan semua sensasi yang pernah ia rasakan… semuanya itu seperti berhenti bergerak… dan semuanya bersama-sama dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya, menikmati momen itu.

Momen dimana ia berada di tempat itu, di hari itu, bersama orang itu.

Ini pertama kalinya, keseluruhan dari dirinya berhenti berpencar-pencar kacau kemana-mana. Semuanya sepakat bahwa orang ini, waktu ini, dan tempat ini, adalah daya tarik luar biasa. Sejak saat itu, semua hal dari dirinya bekerja sama untuk mendapatkan perasaan itu lagi.

Sekarang semuanya sibuk sendiri-sendiri lagi. Baik warna, gambar, bentuk, rencana, kata-kata, kalimat, apapun itu, semuanya sibuk lagi dalam aktivitas masing-masing. Tapi bedanya, sekarang semuanya itu bergerak ke satu tujuan bersama.

Mereka sekarang sepakat, untuk mengusahakan agar sekali lagi mengalami perasaan itu lagi. Mungkin di tempat yang lain. Mungkin di waktu yang lain. Tapi asal dengan dirinya lagi.

:)

Tentang berubah

“….maybe self improvement is not  the answer.. maybe self destruction is the answer” -Chuck Palahniuk

Saya dulu baca banyak buku-buku self help. Tapi lama kelamaan saya mulai berpikir bahwa itu palsu. Merubah diri sendiri, apalagi lewat kata-kata indah itu kadang cuma angan-angan gombal. Orang yang mau hasil dari perubahan tapi gak mau bayar harga itu entah bodoh sekali atau terlalu membohongi diri sendiri.

Saya percaya kalau perubahan itu sakit. Sakit banget. Sakitnya ada di banyak dimensi, sampai-sampai rasanya kayak tenggelam di air panas.

Saya bukan pakar, atau orang yang sudah berubah. Saya juga sedang berubah. Tapi kalau boleh sumbang saran, ini ada beberapa hal yang saya pikir bukan, dan samasekali tidak menuntun pada perubahan:

– Orang yang lagi menonton acara self help di TV, lalu merasa tergugah dengan inspirasi dari kata-kata indah yang ada disitu.

– Orang yang ada di gedung, lalu mendengarkan sesi tentang bagaimana berubah jadi lebih baik.

Perubahan itu samasekali tidak indah. Perubahan itu brutal. Berubah itu berarti pikiran dan hati kamu akan berdarah-darah. Ego-mu akan hancur lebur. Kamu akan menemukan bahwa kamu benar-benar salah. Kalau kamu belum bisa lihat bahwa kamu salah, berarti dalam bidang itu kamu sedang stagnan.

Perubahan itu, saya percaya, ada di tempat-tempat atau kondisi yang paling tidak nyaman buat kita. Membuat kita membongkar semua asumsi-asumsi sama tembok-tembok pembatas pikiran kita.

Dan setelah semuanya berantakan; setelah kita tidak punya apa-apa lagi, saat itu hal-hal baru akan keluar dari dirimu. Dan saat itu kamu pasti akan tahu, kalau kamu benar-benar sedang berubah.

Nb: Pilar pertama buat diancurin biar bisa berubah itu gampang banget ditemuin: ego.

Midnight sale dan konsumerisme

Hari raya itu identik sama diskon. Beberapa tahun belakangan di Jakarta banyak pesta diskon yang adanya tengah malem, namanya Midnight Sale. Orang-orang belanja barang-barang yang jadi mahal karena ada tulisan nama beberapa orang atau beberapa kata absurd yang kita kenal dengan sebutan “merek”.

Saya tidak munafik, saya tertarik banget dengan barang-barang itu. Saya pikir saya butuh kemeja, celana, sepatu baru. Bukan apa-apa, kan buat perlengkapan kuliah. Hehe.

Tapi kemudian saya baca artikel Is Consumerism Killing Our Creativity? di the99percent.com.

Menarik sekali. Disitu ditulis kalau hasrat kita membeli barang-barang itu sama seperti dorongan kreatif kita yang bisa muncul tiba-tiba.

Katanya, hasrat untuk memiliki sesuatu dalam dunia material itu sama seperti hasrat yang sama ketika pikiran atau kreativitas kita muncul di dunia ide. Dorongan yang sama untuk membeli handphone baru, atau baju baru, atau sepatu baru, itu sejenis dengan dorongan ketika kita mau menulis posting blog baru, atau mendesain sesuatu.

Tapi sayangnya, budaya konsumerisme itu katanya bisa membunuh kreativitas. Di Newsweek, ada artikel “The Creativity Crisis“, isinya tentang gimana riset menemukan kalau kreativitas secara umumnya di AS menurun. Ada poin penting banget disitu, tentang gimana hardship (kesusahan) bikin orang lebih kreatif:

It’s also true that highly creative adults frequently grew up with hardship. Hardship by itself doesn’t lead to creativity, but it does force kids to become more flexible—and flexibility helps with creativity.

Aha! Mulai terpikir kan gimana dampaknya budaya konsumerisme di Indonesia?

Ekonomi Indonesia itu bergantung sekali dari besarnya pasar disini. Memang, budaya konsumerisme itu bikin pertumbuhan ekonomi Indonesia jadi bergerak cepat. Tapi budaya konsumerisme juga bisa bikin tumpul.

Saya jadi ingat beberapa kutipan di The Fight Club, salah satu film kesukaan saya.

The things you own end up owning you.  It’s only after you lose everything that you’re free to do anything.

Saya ingin beli barang yang saya butuh saja, jadi saya bisa bebas hidup sebagai sebuah variabel independen di dalam kehidupan yang absurd dan sangat singkat ini.

life’s mystery #7

The moment when i realized that i’m just a totally insignificant human being…

is the moment when i start to be significant.

Paradox #6

learning new things makes me know something new. Learning old things over and over again makes me become new.

Exception

Most people never change. No matter how far things around them has changed, and no matter for how long you’ve been hoping them to change, they’d stay just the same.

But we know that for everything, there is always a room for an exception. Sometimes rain fell heavily in the hot season in Jakarta. Even a corrupt country like Indonesia now can enjoy surprisingly high economic growth in the middle of global recession.

We know that there is always a tiny little room for an exception. And that idea of a tiny little room for exception has become the reason for us to believe that this person MIGHT change.

Then we’re concentrating on fixing things. Praying. Reading books. Learning others and ourselves. Or basically everything that can help him change.

As time goes by, through many struggles and disappointments, we might not been succeeded in witnessing him changed. But we know for sure that someone else has changed: we are.

Starbucks, Twitter dan Cinta

Oke, judulnya agak gimanaaa gitu. Tapi tiga hal itu yang paling mewakili ide-ide besar apa yang saya pikirin sekarang. Jadi begini. Perubahan sosial itu sama seperti cinta: bisa menghasilkan sesuatu yang samasekali berbeda. Satu-satunya yang pasti itu adalah ketidakpastian itu sendiri.

Dalam hal perubahan sosial, agent of change itu kadang bukan cuma para aktivis, pemikir (akademisi/pengamat), tapi justru entrepreneurs. Dan kalau bicara tentang entrepreneurs, ide mereka itu bisa aneh-aneh. Menarik, karena ide-ide mereka justru kadang jadi cikal bakal perubahan sosial selanjutnya. Seperti cinta, perubahan sosial itu terjadi tanpa terkendali, membuat versi baru dari banyak status quo yang selama ini kita tahu. Misalnya, Starbucks dan Twitter.

1. Starbucks

Starbucks dulu itu bagian dari gaya hidup instan ala McDonald. Kedai Starbucks di Seattle dulunya jual kopi dengan cara instan. Para pembelinya antri pagi-pagi buat beli kopi yang diminum di jalan saat sedang berangkat kerja. Kasir Starbucks saat itu identik dengan karyawan bergaji kecil yang hanya butuh untuk terampil dan cekatan melayani pelanggan yang membludak. Harga kopinya juga murah. Adalah Howard Schultz yang kemudian punya ide buat mengadopsi gaya minum kopi di Eropa yang elegan (minum kopi sambil duduk di tempat-tempat yang didesain dengan baik, dengan kursi yang nyaman dan sambil membaca, atau mengobrol ringan).

Ide ini kemudian berhasil, dan Starbucks jadi salah satu penggerak utama perubahan sosial dalam hal gaya hidup. Orang jadi terbiasa minum kopi di Starbucks sambil rapat, menyelesaikan kerjaan, atau sekedar membaca buku. Starbucks menyumbang beberapa kata dalam kamus budaya pop, seperti “barista” dan “frapuccino”. Dan dalam masa-masa meledaknya di dekade 1990an, konon ada satu gerai Starbucks yang baru dibuka setiap hari kerja. Starbucks bukan cuma sekedar bisnis, tapi promotor gaya hidup jenis baru.

Di sisi lain, McDonaldism tidak runtuh. Gaya hidup instan tetap ada dan tetap populer. Hanya, orang sekarang punya pilihan berbeda-beda dalam hal gaya hidup.

2. Twitter

Twitter juga sama. Sejak didirikan tahun 2006 oleh Jack Dorsey, Twitter konon mendorong beberapa perubahan sosial. Melalui #kultwit, beberapa praktisi dan akademisi bilang kalo Twitter merubah alur penyampaian berita dari yang semula:

Rapat redaksi>> reporter (newsgathering)>> redaksi (agenda setting dan kebijakan editorial)>> berita>> publik

Jadi begini>

Publik>> obrolan di Twitter yang populer/ jadi TT>> Rapat redaksi (agenda setting)>> berita>> publik

Oke, tentu saja itu tidak berlaku di semua berita. Itu satu hal. Hal lain adalah tentang gimana distribusi informasi dan pengaruh di Twitter itu jadi lebih terdistribusi. Ini saya pelajari dari Roby Muhammad. Twitter meredefinisi “opinion leader’, dan membuat perubahan sosial jadi susah diprediksi. Sekali-kalinya sudah terjadi, perubahan sosial itu jadi sulit dikendalikan. Contoh: Koin prita. Meminjam bahasanya Malcolm Gladwell, perubahan sosial dalam kasus koin Prita itu sudah mencapai Tipping Point-nya.

Menarik.

Hal yang sama juga terjadi karena motif lain yang jauh lebih abstrak: cinta. Karena 5 huruf itu, seseorang berubah dari tadinya cenderung berkomitmen, jadi malah mudah berpindah orientasi hati (hehehe).

Di sisi lain, yang biasanya ganti-ganti pacar, malah berani menunggu 2 tahun yang super gak jelas di tahun-tahun dia terlihat paling cakep; untuk seseorang yang baru dekat selama 5 bulan.

Begitulah menurut saya. Perubahan sosial itu seperti cinta. Anda tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi apa di kemudian hari. Semua asumsi, stereotipe, atau presuposisi tentang seseorang, atau sesuatu, akan mudah sekali menjadi tidak relevan (tidak relevan = bahasa halus untuk “salah”).

Dan kendali untuk perubahan sosial itu ada di tangan (atau kepala) para entrepreneurs; sama seperti perubahan-perubahan karena cinta itu terjadi di hati manusia.

Dan sama seperti cinta yang butuh serendipity, perubahan sosial juga butuh momentum Tipping Point.

Bagi saya sendiri, cinta juga banyak merubah saya. Dulu saya mudah berkomitmen dan bisa melakukan hal2 yang “terlalu niat” hanya karena urusan hati. Tapi ini dan itu terjadi, dan urusan komitmen jadi jauh lebih rumit dari sebelumnya, sehingga saya sekarang cenderung sangat sulit berkomitmen.

Saya, dalam hal ini, bukan termasuk ke dalam para entrepreneurs yang mengubah dunia itu. Saya hanya salah satu yang membicarakan tentang ini dan itu di kedai-kedai kopi. Mungkin bersama anda. Mungkin bersama yang lain. Tapi yang jelas, itu hanya untuk saat ini. Sama seperti perubahan sosial, dan seperti cinta; kita tidak pernah tahu kapan kita akan berubah menjadi apa, oleh siapa.

Nb:

1. Oke, harusnya banyak ide-ide yang dikutip dengan lebih baik. Lain kali saya akan menulis #kultwit dari siapa yang saya kutip.

2. Ada beberapa buku yang jadi referensi semua yang saya tulis disitu: Starbucked: A double tall tale about caffeine, commerce and culture; The Starbucks Experience; The Tipping Point dan Ideavirus.