Tag Archives: Karir

Usaha Rumit Untuk Menjadi Sederhana

“Any fool can make things complicated, but it requires a genius to make things simple.”

Saya sangat terinspirasi dengan tulisan ini > klik disini

Tulisan itu sebenarnya sedikit sok-tahu, karena dia bilang “Why Elegant Simplicity is the Most Important Idea You’ve Never Heard Of“, sedangkan jelas-jelas orang Jepang sudah kenal prinsip Wabi-Sabi sejak ratusan tahun lalu. Orang ini idealis dan pintar, tapi kurang banyak membaca dan ceroboh.

Bagaimanapun, tulisan ini membuat saya banyak berpikir tentang pilihan-pilihan saya. Saya selalu punya kecenderungan untuk membuat segala sesuatunya lebih rumit. Beberapa bulan lalu, saya menjejal-jejalkan banyak kegiatan sekaligus dalam jadwal. Itu termasuk pekerjaan yang lebih dari satu, kursus bahasa dua kali seminggu, fitness, bertemu teman paling tidak dua kali seminggu dan satu atau dua acara lain. Itu membuat waktu saya sepertinya sangat terbatas. Jadi orang sibuk memang menyenangkan.

Tapi siapapun pasti tahu, kalau sibuk itu tidak identik dengan produktivitas.

Saya kemudian sakit. Lalu saya banyak berpikir. Lalu saya membaca artikel tadi. Dan saya jadi lebih banyak berpikir. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat segala sesuatunya lebih sederhana. Saya akan fokus ke hal-hal yang prioritas. Kursus bahasa berhenti dulu. Saya akan fokus di pekerjaan dan fitness aja. Sambil juga mengurangi frekuensi keluar rumah. Pertemuan-pertemuan tidak penting akan saya kurangi dulu.

Ini saja akan membuat saya menghemat banyak waktu, yang akhirnya bisa dipakai untuk hal lain yang lebih esensial: membaca buku, atau memikirkan hal-hal baru dalam menyelesaikan pekerjaan saya. Sementara itu, saya akan tetap belajar bahasa, tapi pakai cara-cara lain. Dengan memotong-motong kegiatan, saya bisa hemat waktu, uang dan tenaga.

Ah, menarik.

Simplicity requires less ego and more imagination, less complication and more creativity, less glamor and more gratitude, less attention to appearance and more attention to essence.

Tentang Mereka

Its just wind, it blows everywhere…

– Dave Spitzer, karakter utama film “Weather Man”

Dave Spitzer adalah seorang pembawa acara ramalan cuaca di sebuah stasiun TV di kotanya. Ia bergaji ratusan ribu dollar per tahun, plus dikenal semua orang di kota itu. Tapi, Dave merasa pekerjaan itu sebuah kebohongan besar. Tak ada yang tahu, bahwa peramal cuaca hanyalah boneka cuap-cuap didepan kamera yang menunjuk-nunjuk ke layar biru dengan akurasi letak tangan. Itu saja. Bukan akurasi prediksi cuaca. Karena bagaimanapun, seperti yang dikatakannya, dan pada akhirnya menjadi kutipan terkenal dari film medioker ini: “Its just wind, it blows everywhere“.

Semua profesional pasti mengetahui kebohongan besar yang terkait di bidangnya. Akbar Tanjung, dalam sebuah wawancara di harian nasional mengatakan: “dalam politik, tidak ada sahabat, yang ada hanyalah kepentingan“. Semakin seseorang mengenal bidangnya, semakin ia melihat dengan jelas semua kelemahan-kelemahan yang ada di bidangnya. Seorang pekerja humas, sesungguhnya adalah pembohong. Ingat, semboyan suci mereka adalah “tell the truth, but not the whole truth“. Dan siapakah yang menjadi sahabat sejati para pekerja humas? Pastilah bukan para jurnalis, karena mereka adalah budak-budak yang akan menarik mereka menuju anak tangga karir berikutnya.

Semua profesi, mempunyai boroknya masing-masing. Tepat seperti Dave “Weather Man” Spitzer. Bahkan badutpun lebih jujur daripada pembawa acara ramalan cuaca. Setidaknya badut tidak terlihat-pintar-padahal-tidak-tahu-apa-apa.

Tapi, mungkin demikianlah seharusnya. Seseorang yang semakin jelas melihat borok pada bidang yang ditekuninya, berarti sudah melihat realita. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan realita adalah sehat. Apalagi bagi seorang jurnalis.

Kamu tidak akan merasakan bahwa kamu semakin hebat. Tidak ada yang berubah. Tulisanmu mungkin tidak akan mengguncangkan rezim, menumbangkan diktator, menggali kebenaran yang tersembunyi. Kamu mungkin tidak akan membongkar kasus kejahatan lingkungan terkenal, tidak menemukan barang bukti menuju sebuah kasus korupsi terbesar dalam sejarah, atau menyeret seorang anggota dewan karena sebuah skandal tersembunyi.

Tetapi, semua akan terjadi begitu saja. Satu per satu orang datang dan memuji tulisanmu. Orang akan datang dan pergi, dan kamu akan tahu siapa yang patut dipercaya, dan siapa yang tidak.

Pemerintahan tidak akan pernah benar, begitupun pejabat. Begitupun sarana transportasi. Begitupun harga-harga barang. Begitupun koneksi internet.

Tetapi, hak istimewa bagi seorang pewarta kebenaran adalah sudut pandang yang jernih, dan banyak. Dan itu berarti pilihan. Pilihan terhadap kata-kata. Pilihan terhadap sudut pandang penulisan. Pilihan terhadap ide-ide apa yang akan disampaikan. Itulah hak istimewa seorang jurnalis. Dia dapat memilih apapun untuk dikatakan. Tidak ada yang rahasia bagi jurnalis. Itulah yang diberikan iblis bernama “ketidakadilan”… kepada para jurnalis. Persis seperti yang dikatakan seorang sahabat: ketidaktahuan adalah anugerah.