Tag Archives: Kekuasaan

Dari Merauke sampai Sabang

Oke, saya bukan ahli bahasa. Samasekali bukan. Tetapi, adalah benar bahwa kadang, bahasa adalah alat untuk menunjukkan dominasi pihak berkuasa, kepada pihak yang dikuasai. Ambil contoh bahasa yang dipakai di banyak media di Indonesia ketika mencoba memberitakan sebuah pemerkosaan : “Seorang gadis digagahi di perkebunan…”. Tindakan pemerkosaan dilihat sebagai aksi unjuk gigi si kuat terhadap si lemah. Bahasa kiasan seperti inilah, yang kadang membelokkan makna. Maksud hati ingin memperhalus isi berita, nyatanya malah menyampaikan makna lain selain pemerkosaan.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus ”harga disesuaikan”, walaupun frase tersebut sekarang sudah mulai ditinggalkan oleh para praktisi media.

Tetapi, bagaimana dengan istilah ”dari sabang sampai merauke”? Apa yang menjadi dasar pemilihan kata-kata ini? Mengapa ”Sabang” lebih dahulu daripada ”Merauke”?

Jawaban dari semua ini mungkin dapat dilihat dari kenyataan. Sabang adalah representasi dari Indonesia bagian barat. Merauke, tentu saja, adalah representasi dari Indonesia bagian timur. Jelaslah sudah bahwa penduduk Indonesia, dibentuk sedemikian rupa untuk lebih memprioritaskan bagian barat daripada timur. Indonesia timur adalah bagian yang selalu menjadi anak tiri dalam pembangunan nasional, apalagi sebelum jaman reformasi. Indonesia timur selalu menjadi daerah tertinggal dari Indonesia. Pembagian keuntungan, porsi pemberitaan, pembangunan fasilitas, dan sebagainya selalu mendudukkan Indonesia bagian timur di posisi nomor dua.

Padahal, Indonesia adalah timur dan barat. Seperti barat, timur juga memiliki kekayaannya sendiri, sebuah keunikan tak terbantahkan dari Ambon, Maluku, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan semua pulau-pulau lain di Indonesia bagian timur. Mencoba menganaktirikan Indonesia timur adalah usaha untuk mengamputasi diri sendiri.

Jadi, marilah kita rubah istilah ”dari Sabang sampai Merauke” menjadi ”dari Merauke sampai Sabang”. Toh, matahari terbit terlebih dahulu di timur, kan? Di Merauke.

Demokrasi Adalah

Apakah demokrasi itu? Tanyakan kepada mahasiswa, maka ia akan menjawab betapa itu penting, esensial, dan fundamental bagi keberlangsungan sebuah negara. Ia, kemungkinan besar, akan mengkutip Voltaire, JJ Rousseau, atau bahkan Descartes [jika ia sok tahu]. Ia akan bicara tentang betapa kuatnya pengaruh demokrasi pada penciptaan iklim bernegara yang bebas, pers yang independen dan berfungsi sebagai watchdog pemerintahan, dan sebagainya. Bersyukurlah jika ia bukan mahasiswa idealis yang suka berdemo, atau kau akan diajak bicara berjam-jam.

Tanyakan kepada salah satu orang di jalan, di bis, atau siapapun yang kamu pilih secara acak. Kemungkinan besar kamu akan mendapat jawaban : pemilu. Demokrasi adalah pemilu. Pemilu adalah demokrasi.

Tanyakan kepada politisi. Kemungkinan, pertama, ia akan balik bertanya, kamu dari media mana. Jika kamu bukan orang media, ia tidak akan menjawab kamu karena waktunya terlalu berharga. Daripada menjawabmu, lebih baik ia berkampanye untuk merebut jabatan yang diimpikannya siang-malam. Tetapi kalau kamu dari media, kamu akan dijadikan alat kampanyenya. Dia akan menyembur-nyembur tentang betapa demokrasi penting bagi rakyat kecil, dan bahwa ia adalah agen pembaharu masyarakat.

Tetapi jangan lupa, tanyakan juga pada orang-orang yang dikotak-kotakkan secara statistik sebagai “orang kecil”. Dan siap-siaplah menemukan jawaban jujur bahwa demokrasi adalah alat penguasa untuk tetap berkuasa. Bahwa esensi kebebasan berpendapat hanya akan menuntun kepada kekuasaan mayoritas. Dan di dunia dimana mayoritas berkuasa, minoritas hanyalah kutu. Tidak ada tempat bagi kutu.

Dapatkan jawaban dari orang minoritas, bahwa para mayoritas terlahir dengan bawaan untuk memakan sesamanya. Bahwa perbedaan adalah alasan untuk membunuh, dan hak asasi manusia adalah ee.

Dapatkan jawaban dari para minoritas, bahwa kaum mayoritas adalah para kanibal yang tidak pernah berhenti lapar.

Pada akhirnya, dapatkanlah jawaban dari semua orang, bahwa di dunia yang penuh demokrasi ini, hati nurani adalah sebuah minoritas. Dan didalam demokrasi, tidak ada tempat bagi minoritas.