Tag Archives: Nasib

Sebuah Pemikiran Absurd

Menurutmu, apakah manusia pada dasarnya baik atau buruk? Apakah manusia mempunyai pilihan penuh atas hidupnya, atau ia hanyalah budak dari dirinya sendiri?

Apakah semua orang akan bertindak sama jika berada pada situasi dan kondisi yang benar-benar mirip? Katakanlah, apakah semua orang akan korupsi jika berada pada situasi dan kondisi yang sama seperti yang dihadapi oleh para koruptor?

Bayangkan seperti ini : sebuah birokrasi yang korup, yang memandang tak berdosa jika ada suap-menyuap; atasan dan bawahan yang semua korup, yang membuat pencurian menjadi hal biasa. Bayangkan sebuah lingkungan dimana semua berpesta pora dari hasil korupsinya. Bayangkan sebuah kondisi dimana jabatan dan lingkungan bisa menelan bulat-bulat barang bukti yang mungkin dapat melawan. Bayangkan sebuah kesempatan untuk membeli hadiah baru untuk istri. Bayangkan sebuah pemasukan instan entah dari mana-anggaplah bonus- untuk membiayai kuliah anak di luar negeri. Dan lagi, yang terpenting, anggaplah uang itu, sebagai bonus dari kerja kerasmu. Bagaimanapun juga, negara miskin ini harus menghargai segala sumbangsih dan bakti tulusmu yang tak kenal lelah buat bangsa ini, kan? Bagaimapun, pilihanmu untuk mengabdi bagi negara ini harus dihargai. Dan uang korupsi, eh, bonus itu adalah bukti nyata balas jasa bagi jerih payahmu. Bukan begitu?

Bagaimana?

Jika semua orang akan mengambil kesempatan itu, berarti benar bahwa semua orang mempunyai kesamaan : pada dasarnya jahat. Dan jika demikian, yang patut dibenahi adalah sistem hukum negara ini. Dan itu berarti memasang cctv di kantor-kantor negara, menghukum para koruptor, menegakkan hukum, dan mempermalukan mereka di media-media.

Tetapi, jika tidak semua orang mempunyai kecenderungan jahat, maka negara telah menempatkan orang-orang yang salah di posisi yang salah. Dan bisa dibilang, triliunan rupiah kerugian negara akibat korupsi selama ini hanyalah masalah tidak mujur saja; karena entah kenapa, yang terpilih jadi amtenaar adalah orang-orang yang tidak jujur.

Sudah kubilang ini absurd.

Iya, mudah-mudahan…

Aku datang ke warung itu saat bulan sudah bersiaga menggantikan matahari. Sebuah warung biasa, kecil, dan agak kurang terawat. Aku kesana ingin membeli minuman. Hanya itu saja.

Tetapi alam mengajakku merenung sebentar saat dia menyambutku di warung. Namanya Olis, salah satu sahabat masa kecilku. Dia berbeda denganku dalam banyak hal : dia Islam, dan Betawi. Tetapi, dia sama denganku dalam hal sama-sama anak tunggal. Kami, sama-sama tumpuan keluarga kami. Kami dulu bermain bersama. Main bola. Grup kami cukup disegani. RT kami sempat juara dua dalam kejuaraan se-RW dalam kompetisi tujuh belasan di komplek kami. Sederhana, mungkin, tetapi cukup untuk membuat kami merasa dekat. Belum lagi kebiasaan kami bermain Playstation bersama di rumahku.

Tetapi, mungkin, sang Nasib, ingin mengajarinya hal yang lain dengan yang diajarkan padaku. Pada usia SMA, Olis suka berperilaku ganji. Tengah malam, dia suka berteriak-teriak melintasi jalan komplek kami. Dia juga suka menagngis, dan tertawa tanpa ada satupun yang mengetahui sebabnya. Kadang, dia pergi sendirian tak jelas arahnya.

Ah, seandainya keadilan ada di muka bumi ini. Tetapi, keadilan, kadang bersembunyi, di tempat dimana hati nurani pun tidak dapat menemukannya. Warung itupun seperti menggambarkan harapan kedua orangtua Olis. Barang-barang tidak lengkap, dan ditata seadanya. pembelinya pun hanya warga sekitar yang mencari kerupuk, makanan kecil yang tidak bergizi, margarin, dan minuman.

Dan di warung itulah, dua orang yang dipermainkan oleh sang Nasib pun saling menyapa.

“Reney” kata Olis
“Oi…” jawabku

dan akupun membeli minuman.

“Besok main yuk” Olis mengajak sambil tersenyum lebar
“Iya, mudah-mudahan” jawabku