Tag Archives: pilihan karier

Bliss, Genre dan Niche

Saya percaya seseorang menjadi maksimal dengan melakukan apa yang dia suka secara terus-menerus sehingga menjadi ahli, dan dengan demikian bisa menghasilkan nilai tambah bagi orang lain. Ini dijelaskan juga dalam sebuah forum beberapa tahun lalu yang saya ikuti. Tapi saya lupa siapa pembicaranya. Dia bilang, agar menjadi ahli, anda hanya perlu mengejar bliss (bliss: a state of extreme happiness) anda. Bliss itu diterjemahkan dalam gambar ini:

Bliss itu bisa diartikan sebagai apapun yang anda suka secara alami dan disaat yang sama, anda jago melakukannya. Bagi saya sendiri, bliss itu berarti topik-topik buku yang saya cari saat saya ke toko buku, atau situs-situs yang saya browsing… atau ide-ide yang tiba-tiba keluar dari kepala saya. Disaat yang sama, hal-hal itu harus juga sesuatu yang saya bisa melakukannya dengan bagus.

Saya berpikir, setelah menemukan bliss, kita perlu menemukan genre. Saya pakai kata “genre” untuk menjelaskan bahwa kategori-kategori yang diatur dalam genre itu tidak baku dan ditentukan oleh konvensi. Apakah genre anda?

Apakah anda praktisi atau akademisi? Profit atau nonprofit? Jika praktisi, bidang apa? Menemukan genre merupakan batu loncatan untuk mengembangkan dunia kita seluas-luasnya. Itu bisa membantu memilih prioritas acara-acara apa yang anda akan datangi, buku-buku apa yang anda akan baca, dan sebagainya. Genre juga membantu kita untuk memilih hal-hal yang kita hebat didalamnya, dan hal-hal yang kita tidak mengerti samasekali. Semua orang perlu mempunyai banyak hal yang dia tidak tahu, agar menjadi hebat dalam hal-hal yang dia tahu.

Lalu berikutnya, setelah selama bertahun-tahun membangun genre, anda perlu menemukan niche. Niche menurut Wikipedia adalah

is the subset of the market on which a specific product is focusing; therefore the market niche defines the specific product features aimed at satisfying specific market needs, as well as the price range, production quality and the demographics that is intended to impact.

Jika bagi dunia kita adalah produk dari keseluruhan bentukan orangtua+sosial kita, maka niche adalah sebuah pasar yang spesifik cocok untuk anda. Niche dalam kata-kata saya sendiri adalah sebuah ceruk di dalam dunia yang disediakan bagi anda. Niche bisa berarti pekerjaan yang sesuai dengan bliss dan genre anda. Bisa juga berarti sebuah komunitas yang cocok dengan anda, atau apapun yang disediakan dunia yang sesuai dengan minat anda.

Niche itu bukan berarti ‘menjual’ kemampuan anda. Tidak sesederhana itu. Niche adalah sebuah tempat dimana kemampuan anda diapresiasi dalam bentuk uang (gaji), THR, fasilitas, kesempatan dan teman-teman yang sejalan dengan minat anda.

Saya terpikir hal ini saat beberapa hari kemarin gagal menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan bliss dan genre saya. Saya lalu berpikir, mungkin perlu selalu mempertajam fokus agar terus bergerak di jalur yang sesuai, sehingga mudah dalam menentukan prioritas.

Anda juga pernah seperti itu? Pernah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk buku-buku yang tidak penting hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu? Atau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk acara-acara yang tidak jelas apa manfaatnya di jangka panjang? Saya tahu rasanya. Itu seperti saat anda lapar setengah mati, tapi hanya ada air. Anda minum air banyak-banyak untuk mengisi perut anda… dan saat mulai kembung, anda tetap merasa lapar.

Tentang karier, cinta dan semua keanehannya

Tonight most people will be welcomed home by jumping dogs and squealing kids. Their spouses will ask about their day, and tonight they’ll sleep.

The stars will wheel forth from their daytime hiding places. And one of those lights, slightly brighter than the rest, will be my wingtip passing over.

Itu adalah kutipan dari film Up in The Air yang menggambarkan bagaimana hidup Ryan Bingham berbeda dari yang lain. Ryan, digambarkan sebagai seorang yang sangat sering bepergian dan menyukai hal itu. Ia suka kebebasan. Ia berencana tidak punya anak dan tidak ingin punya rumah.

Saya suka dengan karakter Ryan yang sangat solitary, independen dan nyaman dengan kesendirian. Saya juga mungkin tipe orang yang dibentuk untuk menjadi seperti itu. Saya lahir sebagai anak tunggal, dan kedua orangtua saya bekerja. Saya lalu mendapat pekerjaan yang bisa saya urus dari rumah.

Karena terbebas dengan masalah transportasi (yang menghabiskan uang, tenaga dan waktu), saya jadi punya banyak waktu luang untuk membaca, ikut beberapa kelas dan masih bisa mengobrol bersama teman-teman (asal pada malam harinya saya lembur).

Tapi tidak semuanya baik. Saya merasa kesepian. Efektif, tapi kesepian. Saya mencoba bertemu secara rutin dengan beberapa orang, tapi tampaknya, bagi orang-orang ini, pukul 9 pagi sampai 5 sore adalah waktu terbaik mereka. Sisanya adalah waktu mereka untuk memulihkan tenaga. Dan itu membuat obrolan dengan mereka menjadi sedikit ‘berbeda’.

Dalam hal hubungan-spesial, saya juga belum beruntung. Agak ironis memang, karena saya adalah kontributor artikel tips-tips hubungan romantis. Tapi saya sendiri menghadapi banyak masalah dalam hal cinta, seperti miskomunikasi, kesenjangan antara harapan dan kenyataan, ketidakpastian yang terlalu besar, dan sebagainya. Dalam hal hubungan cinta, sepertinya saya memang belum beruntung.

Tapi film Up In The Air memberikan saya ide untuk menata kembali cita-cita dan prioritas saya. Film ini tidak berakhir dengan Ryan Bingham menikah atau berubah. Film ini seperti hanya menjelaskan satu babak dalam hidup Ryan. Dan itu yang saya butuhkan.

Saya perlu yakin, bahwa semua misteri, ketidakpastian dan keanehan dalam hal hubungan cinta; serta semua isu tentang kesepian karena perbedaan pilihan hidup; hanyalah satu babak dalam hidup saya. Kadang, tidak perlu ada jawaban. Menyebalkan? Mungkin. Tapi beberapa hal perlu dihadapi dengan melebarkan hati, bukan dengan mendesak-desak mencari jawaban.

Cinta? Saya tidak tahu akan kemana arahnya.

Kesepian? Biar itu jadi urusan saya.

Kadang ada saatnya anda menikmati naik-turunnya roller coaster cinta, mengambil keputusan drastis, atau mengijinkan diri anda dikendalikan emosi/ perasaan/ insting. Tapi saat terlalu banyak ketidakpastian, saat harapan jadi too-good-to be-true, maka yang terbaik yang bisa dilakukan adalah menghela nafas, bicara dengan 1-2 teman terdekat, memainkan musik favorit, lalu kemudian memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini.

Saya mungkin akan kembali ke hal-hal favorit saya… membaca buku, mendengarkan lagu-lagu, berusaha menikmati oatmeal saya, dan mencari apapun yang menarik perhatian saya. Mendatangi acara-acara menarik, atau menikmati obrolan-obrolan menyenangkan dengan teman-teman Saya juga akan menikmati rasanya menata urusan seperti rencana studi, tabungan/keuangan, pakaian, travel, dan sebagainya.

Itu sudah cukup untuk membuat segalanya menyenangkan lagi.