Tag Archives: Uang

Uang

Dunia penuh dengan konflik kepentingan, kan? Dan akar dari semuanya mungkin adalah ini: uang.

Perang, bagi sebagian orang naif adalah perjuangan mempertahankan idealisme, kepercayaan, dan merebut keadilan. Sementara bagi sebagian orang lain adalah ceruk pasar bagi industri senjata.

Media, bagi sebagian orang naif adalah alat untuk mencerdaskan masyarakat, untuk memberitakan fakta, dan membela kaum tersingkir. Sementara bagi sebagian orang lain adalah alat untuk merebut simpati demi jabatan, adalah alat untuk menyembunyikan fakta demi stabilitas, dan alat untuk memperoleh uang dari rating dan oplah.

Dan semuanya tidak dapat dilawan. Uang, adalah kepentingan. Adalah kekuatan. Adalah kesempatan.

Uang berarti ini: pilihan. Memilikinya berarti membuka pintu-pintu kesempatan.

Jadi, pilihan ada ditangan kita. Ayo cari uang sebanyak-banyaknya, dengan cara sejujur-jujurnya. Tabung. Jadilah kaya. Lalu, dengan semua kemampuan itu, hambur-hamburkanlah untuk ini: membangun rumah sakit gratis, membangun sekolah bagus yang murah, atau apapun itu, yang bermanfaat.

Uang hanya alat. Tujuan akhirnya adalah pilihan kita, kan?

A wise man should have money in his head, but not in his heart

– Jonathan Swift, Irish essayist, novelist, & satirist (1667 – 1745) –

Sebuah Kejutan Entah Dari Mana

Ide, adalah si sombong yang angkuh. Ia datang dan pergi sekehendak hatinya. Persis seperti angin, yang tidak pernah minta ijin jika hendak menampakkan diri, dan tidak pernah mengucapkan selamat tinggal jika hendak berganti tujuan. Bagi mereka berdua, tidak ada batasan. Hati semua manusia adalah kuburan terbuka bagi Ide, dan semua sudut dunia adalah pintu yang tidak pernah tertutup bagi angin.

Bagi banyak orang, Ide begitu nyata, dan sangat tidak nyata. Semua membahasnya. Semua tahu kehebatannya. Tetapi semua sepakat akan suatu hal: bahwa tidak seorangpun mempunyai sebuah cara yang pasti untuk menemuinya.

Ide, berbeda dengan sang pelacur tua bernama uang. Uang tidak pernah memilih-milih dengan siapa dirinya bertemu. Ia adalah kawan baik semua orang. Ia selalu siap memberikan apapun yang kamu mau. Kapanpun. Dimanapun. Asal kamu mampu memberikan apa yang dia inginkan. Tetapi, kawan, uang lebih bijaksana dibandingkan Ide. Uang tahu semua keburukan manusia.

Uang tahu, bahwa dia digunakan seorang agamawan, untuk membayar pelacur, atau membayar sepasukan tentara untuk membunuh. Ia tahu, bahwa kadang, keputusan penting didalam pemerintahan yang terkait dengan hajat hidup orang banyak, harus dibeli dengan uang. Ia juga tahu, bahwa kadang, diantara degil dan kikirnya manusia, masih ada beberapa orang yang menggunakan dirinya untuk mengatakan sebuah pesan, bahwa dunia belum kehabisan orang baik.

Semua pengetahuan ini, tidak dimiliki Ide. Tetapi jangan salah. Ide jauh lebih menggairahkan. Ide mempesona semua orang, dan membuat orang mabuk kepayang akan godaan tarian-tariannya yang mengundang hasrat. Ia mampu membuat dirimu bergairah. Ia menggerakkan sendi-sendi dalam tubuhmu, kepalamu, dan disaat yang sama, menggelitik hatimu dan membolak-balik kepalamu. Satu Ide besar, dapat meledakkan orang-orang disekelilingmu, membuat mereka tertawa kagum dalam hati, atau menggila dibalik datarnya tatapan muka dan bibir sinis orang-orang.

———————————————————————————

Sudah lama aku berkawan dengan si pelacur tua bernama uang. Ah, dan lihat, dia begitu setia menemani…. jika kamu punya yang dia mau.

Tetapi, belum lama ini, si angkuh tua bernama Ide datang. Seperti biasa, tidak diundang. Sejak bumi dibentuk oleh Yang Maha Kuasa, Ide tidak pernah diundang untuk datang. Ia, punya kekuasaannya sendiri. Sebuah hak prerogatif yang mengagumkan.

Ide ini, datang didalam sebuah pembicaraan omong kosong dengan dua sahabat hebat yang jauh dari omong kosong. Sebuah omong kosong yang menyediakan tempat bagi berlabuhnya Ide. Bagaimanapun, elang tidak akan datang ke sangkar yang berisi, bukan?

Bermula dari sedikit ini dan sedikit itu. Dan didalam ruang-ruang ciptaan Tim Berners Lee itulah, Sang Ide berkenan menunjukkan dirinya kepada tiga orang ini-salah satunya aku.

Kini, biarkan Ide itu tumbuh besar. Sebuah ciptaan, yang pada akhirnya akan membuat kami tercipta kembali. Dan pada saatnya nanti, biarkan Kata-Kata Digital yang menceritakannya padamu. Dan bersiaplah untuk merasakan gairah dan tarian-tarian menggoda darinya, dari Ide.

Silet dan Sujud

17 Mei 2008

Entah namanya siapa. Bapak-bapak berusia tigapuluhan. Sehat, normal. Hanya, di bis yang sama denganku, dia memperlihatkan “pertunjukan” unik, atau lebih tepatnya, ekstrim. Kalau kebanyakan orang meminta uang dengan cara mengamen, atau nyata-nyata meminta uang langsung, dia berani makan silet. Iya! Dia makan silet.

Aksi ini dibuka dengan kata-kata

maaf sekali bapak ibu, kalau terpaksa, tidak akan saya melakukan ini…

Sebenarnya, sudah dua kali aku melihat dia. Tempo hari pernah juga. Di bis yang sama juga. Dan kira-kira beberapa menit setelah dia, belum lagi bis umum itu maju satu kilometer karena ditahan macet, ada orang lain lagi yang datang untuk meminta uang. Untunglah dia tidak membawa silet. Anehnya, dia tidak bawa apapun. Tidak gitar. Tidak harmonika. Tidak ada alat musik. Tidak ada silet. Dan tangannya bertato. Segala stereotipe tentang orang bertato pun langsung memenuhi pikiranku.

Selanjutnya, dia minta uang. Tanpa ngamen. Dia benar-benar meminta. Dan tidak kalah dengan peminta uang sebelumnya yang memakan silet, dia bersujud di bis itu. Benar-benar bersujud. Di bis umum. Kepalanya pun sejajar dengan kaki-kaki penumpang yang samasekali tidak bersih.

Satu makan silet. Yang lain sujud. Untuk seribu-dua ribu setiap bis.

18 Mei 2008
Situs QBheadlines.com membuat judul debat umum baru : pro-kontra kenaikan harga BBM. Pembicara dari pihak Kontra, Rizal Ramli sempat mengungkapkan :

Fakta menunjukkan, dampak dua kali kenaikan BBM pada 2005 sampai sekarang belum hilang. Jumlah orang miskin melonjak dari 31,1 juta jiwa (2005) menjadi 39,3 juta jiwa (2006). Demikian pula inflasi naik tajam 17,75% (2006). Jumlah penganggur naik dari 9,9% (2004) menjadi 10,3% (2005) dan naik lagi jadi 10,4% (2006). Di sisi industri, kenaikan harga BBM telah mendorong percepatan deindustrialisasi. Pada 2004 sektor manufaktur masih tumbuh 7,2%, namun tahun 2007 hanya tumbuh 5,1%. Ini terjadi karena industri ditekan dari dua sisi, yakni peningkatan biaya produksi dan merosotnya permintaan akibat anjloknya daya beli masyarakat

Semakin banyak orang miskin, berarti semakin banyak yang turun standar hidupnya. Semakin banyak yang miskin berarti semakin banyak yang terancam berhenti sekolah. Semakin banyak orang yang mengurangi jatah makannya setiap hari. Semakin banyak yang harus menggadaikan hartanya untuk menyambung hidup. Dan salah siapakah ini?

Apakah negara-negara eksportir minyak? Apakah pejabat-pejabat Pertamina yang mengutip minyak $2 per barel? Apakah pemerintah yang kekurangan akal dan komitmen untuk mengurangi jumlah orang miskin? Ah… perlukah semakin banyak orang yang makan silet dan bersujud di lantai metro mini kotor?